
gurau-gurau suram tentang warna dunia itu menghampiriku
menyudutkanku dengan pisau keraguan yang nyaris menancap di nadiku
mengancamku dengan jerat ketololan yang pernah menghilangkan diriku
menyiksaku dengan sundutan ketakutan yang kukira telah melenyapkan diri!
sekali ini aku merasa begitu idiot di hadapan dunia
tak mampu mengelak dari hujan nestapa yang turun!
karena lagi-lagi,
dan lagi-lagi,
dengan segala kebodohan itu
aku kembali terdiam dan terdiam...
entah dengan alasan apa aku ingin berteriak marah...
memaki dan mencaci kepatutan yang dipaksakan,
. . . . . !!!!!!!!!!! . . . . .
tak henti aku memprotes diriku yang kembali bersikukuh dengan kepengecutanku
menjadi ketololan bisu yang benar-benar tolol...
tuhan,
mampukah aku berucap benar untuk benar?
beranikah aku menantangkan wajah demi meneriakkan kesalahan yang memang salah?
adakah nyali untuk semua itu?
tersisakah kemauan untuk memberontak????
( dari sebuah pemberontakan yang mati muda...)