Showing posts with label pikiran. Show all posts
Showing posts with label pikiran. Show all posts

Sunday, January 01, 2012

cuma [perlu] sebagian saja.


kadang, yang sebagian itu lebih menarik.



 ___________


benar-benar cukup satu bagian dan tidak usahlah diberitahu soal bagian yang lain. entah ini berkaitan dengan sifat sebagian manusia yang berani berharap tapi tidak berani kecewa, atau memang sekedar lebih suka bermain dengan imajinasinya sendiri sehingga hanya butuh sebagian kecil saja supaya bisa berkembang seluas-luasnya.



___________


seperti cerita pacarannya anak sma. yang suka si anu karena dia begini dan begitu. kemudian setelah sekian pertemuan malah berbalik membenci karena ternyata si anu itu di sisi lainnya begitu dan begini.


___________


padahal ya, sisi yang manapun kan sama saja: semuanya itu merujuk pada dia, orang yang sama. lalu kenapa harus sebagian saja yang diterima?


___________


kalau saya pikir, atau kalau buat saya, alasannya sederhana. sesederhana saya makan tumis kangkung dengan menyisakan potongan bawang putih karena saya tidak suka. atau seperti tren abg jaman friendster yang selalu memotret diri sendiri dengan sudut 45 derajat karena percaya mereka paling bagus dilihat dari sana. cuma sebegitu saja.



___________


mengutip komentar Arza Nursatya soal ini: ‎"Aku bersyukur cuma tau engkau sepotongan ini. Tak perlulah kau tunjukkan sisi lainmu, hanya agar kita akrab. Karena dari yang sedikit tentangmu ini, aku kagum."



___________


meskipun pada kenyataannya, saya sangat suka untuk tahu lebih banyak dan lebih banyak dari yang sebagian itu. apalagi kalau dia membuat saya kagum, atau suka, atau semacamnya. tapi dalam beberapa kasus khusus, saya lebih suka tidak bertanya lebih jauh daripada yang dipaparkan.



___________


dan, cha, gambar yang dari sini saya minta izin pakai ya.. semoga boleh.





___________








-sudut kecil pikiran di awal 2012 yang kehilangan hasrat untuk merasakan kantuk.-

Saturday, December 17, 2011

[kembali] ke Jogja. atau Yogyakarta. dan Solo,



Ke Jogja. Trip? Kurang pas. Travelling? Belum sreg.
Journey. Rasanya seperti itu. Perjalanannya adalah perjalanan yang begitu. Yang tidak pernah selesai dan tidak perlu diselesaikan. Karena selesai artinya benar-benar selesai. Dan bukankah penyelesaian dari hidup adalah tidur panjang yang biasa disebut mati?




Seperti biasa, irama Jogja masih saja membuai saya dalam ketukan nada yang sangat personal dan memanjakan imajinasi sampai di tingkat tertinggi. Sesuatu yang sangat sulit saya dapatkan di kota yang saya tinggali sekarang ini. Di mana? Sebut saja namanya Kota B [bukan nama sebenarnya].




Entah dari mana asalnya, Jogja memberikan saya semacam rasa rindu yang aneh, yang begitu eksotis, yang menggoda saya untuk kembali dan kembali lagi ke sana, tidak peduli dengan siapa saya harus pergi. Tidak peduli dengan angkutan apa saya berangkat dan kembali. Tapi tetap saja, favorit saya adalah kereta api. Lebih spesifik: kereta api ekonomi malam yang tidak dalam kondisi penuh padat.




Jogja kan panas. Iya, Jogja panas. Anehnya, saya tetap betah jalan kaki di sepanjang jalanan Jogja. Alasan pertama adalah karena nggak ngerti jalur angkutan umum Jogja, dan alasan kedua [yang sebenarnya paling penting] adalah karena saya memang suka. Jalanan yang masih ramah, suasana yang memanjakan isi kepala saya, perkenalan-perkenalan kecil di sepanjang jalan, sisihan-sisihan waktu di warung kopi atau warung apapun yang dihampiri untuk berteduh atau melepas haus, dan lain-lain, dan lain-lain, adalah alasan-alasan tambahan yang tidak di-ada-ada-kan.




Angkringan, kopi, obrolan ngalor ngidul, dan waktu yang tidak pernah terasa lama. Ini yang membuat liburan ke Jogja tidak pernah terasa cukup. Ini juga yang membuat saya berkhayal alangkah menyenangkannya kalau bisa jadi bagian dari kota ini.




 . . .




Dan Jogja, membiarkan saya kembali jatuh cinta, pada apapun. Jatuh cinta yang tidak sakit, karena segera bisa mendarat dengan tepat dan terus berjalan. Seperti diberitahu bahwa jalan di depan memang satu arah, tapi tidak cuma ada satu jalan. Hidup berubah. Dan saya percaya itu artinya adalah menjadi lebih baik, selama manusia mau belajar, atau bisa belajar, atau bisa dan mau belajar.




_______________ begitulah _______________



Perjalanan berikutnya adalah Solo, atau Surakarta. Tapi nanti saja lagi, perjalanan saya di Solo masih terlalu singkat untuk bisa benar-benar memahami iramanya.





Pojok timur Bandung, ujung 2011 yang belum sampai.