Showing posts with label foto. Show all posts
Showing posts with label foto. Show all posts

Friday, June 08, 2012

mendadak menuju Tangkuban Parahu [bagian 2]


lima bulan berlalu dan saya baru mau posting bagian dua-nya. telat mampus deh ini tulisan. maaf ya saya udah janji janji palsu mau nyambung tulisan bagian 1 itu secepatnya. kenapa bisa lama banget baru disambung? kalau saya jelasin alasannya, nanti jadinya bakal panjang lebar karena banyak ngarangnya, makin nggak selesai-selesai ini ceritanya. [oke, ini alasan bagus]


wis, dilanjut ah.
selesai hujan yang bukan gerimis itu, ada yang datang nyamperin saya di warung dan ngajak ngobrol, kalau saya nggak salah ingat, namanya Ari, orang asli sekitaran sana, umurnya sekitar 24 tahun. obrol punya obrol, ternyata dia kadang-kadang jadi guide di Tangkuban Parahu ini, dari buat pengunjung lokal sampai guide buat yang nggak lokal. setelah tau saya cuma jalan sendirian, akhirnya beliau menawarkan diri untuk nganterin saya sampai ke dalam kawasan wisata Tangkuban Parahu dengan motor karena jalan kaki dari gerbang bawah itu lumayan jauh. nah, supaya ceritanya singkat, pokoknya beliau akhirnya jadi guide nggak resmi saya deh selama jalan-jalan ke kawah ini.


setelah perjalanan beberapa menit dengan motor, akhirnya sampai juga di atas! mungkin karena masih pagi, udaranya beneran seger dan enak dinikmatin, terlepas dari bau khas kawah yang menyengat ya tentunya. pemandangan khas Kawah Ratu pun tersaji di depan mata saya. ini bukan pertama kalinya saya ke sini dan lihat pemandangan kawah ini, tapi rasa takjub nggak mau jauh-jauh tuh tiap saya main-main ke tempat ini.  


Kawah Ratu, yang sepertinya paling populer diantara yang lain, karena paling mudah dicapai dari tempat parkir. 


biasanya, kalau pergi dengan keluarga, saya nggak bakalan jalan jauh-jauh, cukup di sisi Kawah Ratu ini saja. soalnya biasanya saya ke sini bareng sama kakek-nenek yang emang udah bukan waktunya lagi diajakin jalan kaki nanjak-nanjak jauh-jauh. hehehe. 


Lika liku jalan di kawasan Tangkuban Parahu, lengkap dengan jajaran kios penjual makanan dan souvenir khas sana.


dari penjelasan Ari, ada 3 kawah yang menarik buat dikunjungi di Tangkuban Parahu, yang pertama itu Kawah Ratu, lalu ada Kawah Domas yang ada air panas buat masak telur rebusnya itu (serius, Ari bilangnya gitu), dan Kawah Upas yang dasarnya bisa bikin tulisan nama dengan cara nyusun batu. 


karena sudah pernah ke Kawah Domas waktu acara Jambore Fotografi di Bandung tahun kapan itu, jadinya saya memilih untuk ke Kawah Upas saja ditemani Ari. oia, di tengah perjalanan, ransel saya tiba-tiba pindah ke punggungnya beliau, kasian kali ya liat saya gendong ransel segede itu yang isinya juga entah apa :))
nuhun ya Ri..


Perjalanan menuju Kawah Upas, ada jembatan yang dibangun di atas bekas longsoran.

sepanjang jalan jadinya ngobrol ngalor ngidul, termasuk ditunjukin tanaman yang nantinya dikasih judul "Akar Kayu Naga" yang sialnya lupa saya foto, dan tanaman berdaun merah yang banyak tumbuh di kawasan ini, namanya Manarasa, katanya sih nggak bahaya, jadi saya coba makan itu daunnya, rasanya kayak jambu-jambu gimana gitu deh. eh apa kayak daun jambu ya? sekitaran itu lah rasanya.


Ini tanaman yang namanya Manarasa.

setelah perjalanan yang agak lumayan, akhirnya saya dan Ari tiba di sisi Kawah Ratu yang satu lagi. sempat agak bengong saya, kok bisa-bisanya saya baru mencapai tempat ini setelah lebih dari lima kali mengunjungi Tangkuban Parahu ya? pemandangannya cakep, dan karena baru pertama kali ke sini, saya jadi betah berlama-lama duduk sambil ngeliatin si kawah ini. 

Pemandangan Kawah Ratu dilihat dari sisi yang satunya (bukan dari yang dekat tempat parkir), cakep!

nengok ke kanan sedikit, pemandangannya pun berubah, ada jalan kecil menuju bukit (gunung kali ya?) yang sebetulnya menggoda buat ditapaki. kunjungan berikutnya saya udah niatin bakal jalan ke arah sana deh ini. pengennya sih saya guling-guling di lokasi yang difoto ini, cuma kasian sama Ari, bisa stress dia nanti kalau tiba-tiba teman jalannya berkelakuan agak nyusahin. 

Jalan (bukan) setapak yang katanya sering juga jadi jalur hiking-nya anak muda di area Tangkuban Parahu.


dan, akhirnya tibalah saya di tempat yang disebut-sebut sebagai "tempat nulis nama" sama Ari. sayangnya, kamera ponsel saya nggak sanggup nunjukkin karakteristik si kawah yang satu ini. jadi ya pemandangan sekilasnya saja lah ya. nggak bosen-bosen saya bilang cakep soal pemandangan yang saya liat kali ini. dan menurut saya sih memang nggak berlebihan, susah dapetin kata-kata yang tepat untuk bener-bener gambarin perasaan waktu ngeliatnya :)

Pemandangan sekilas Kawah Upas. 


dan akhirnya sudah waktunya pulang. 
demikian cerita nyasar saya yang tertunda. terimakasih banyak buat Ari yang udah nemenin jalan dan ngobrol ngalor ngidul, terimakasih juga buat seorang teman baik yang mengantar saya dengan sms berisi kata "jarambah" nya, dan untuk seseorang yang setelah dengar cerita ini jadi ngajakin saya piknik ke Tangkuban Parahu tapi belum jadi-jadi sampai sekarang.. hahaha..

ayo jalan-jalan lagi, masih belum puas ini saya.



selamat menikmati! cheers!




masih daerah sub urban di dalam hati, juni 2012

Sunday, January 01, 2012

cuma [perlu] sebagian saja.


kadang, yang sebagian itu lebih menarik.



 ___________


benar-benar cukup satu bagian dan tidak usahlah diberitahu soal bagian yang lain. entah ini berkaitan dengan sifat sebagian manusia yang berani berharap tapi tidak berani kecewa, atau memang sekedar lebih suka bermain dengan imajinasinya sendiri sehingga hanya butuh sebagian kecil saja supaya bisa berkembang seluas-luasnya.



___________


seperti cerita pacarannya anak sma. yang suka si anu karena dia begini dan begitu. kemudian setelah sekian pertemuan malah berbalik membenci karena ternyata si anu itu di sisi lainnya begitu dan begini.


___________


padahal ya, sisi yang manapun kan sama saja: semuanya itu merujuk pada dia, orang yang sama. lalu kenapa harus sebagian saja yang diterima?


___________


kalau saya pikir, atau kalau buat saya, alasannya sederhana. sesederhana saya makan tumis kangkung dengan menyisakan potongan bawang putih karena saya tidak suka. atau seperti tren abg jaman friendster yang selalu memotret diri sendiri dengan sudut 45 derajat karena percaya mereka paling bagus dilihat dari sana. cuma sebegitu saja.



___________


mengutip komentar Arza Nursatya soal ini: ‎"Aku bersyukur cuma tau engkau sepotongan ini. Tak perlulah kau tunjukkan sisi lainmu, hanya agar kita akrab. Karena dari yang sedikit tentangmu ini, aku kagum."



___________


meskipun pada kenyataannya, saya sangat suka untuk tahu lebih banyak dan lebih banyak dari yang sebagian itu. apalagi kalau dia membuat saya kagum, atau suka, atau semacamnya. tapi dalam beberapa kasus khusus, saya lebih suka tidak bertanya lebih jauh daripada yang dipaparkan.



___________


dan, cha, gambar yang dari sini saya minta izin pakai ya.. semoga boleh.





___________








-sudut kecil pikiran di awal 2012 yang kehilangan hasrat untuk merasakan kantuk.-

Saturday, December 17, 2011

[kembali] ke Jogja. atau Yogyakarta. dan Solo,



Ke Jogja. Trip? Kurang pas. Travelling? Belum sreg.
Journey. Rasanya seperti itu. Perjalanannya adalah perjalanan yang begitu. Yang tidak pernah selesai dan tidak perlu diselesaikan. Karena selesai artinya benar-benar selesai. Dan bukankah penyelesaian dari hidup adalah tidur panjang yang biasa disebut mati?




Seperti biasa, irama Jogja masih saja membuai saya dalam ketukan nada yang sangat personal dan memanjakan imajinasi sampai di tingkat tertinggi. Sesuatu yang sangat sulit saya dapatkan di kota yang saya tinggali sekarang ini. Di mana? Sebut saja namanya Kota B [bukan nama sebenarnya].




Entah dari mana asalnya, Jogja memberikan saya semacam rasa rindu yang aneh, yang begitu eksotis, yang menggoda saya untuk kembali dan kembali lagi ke sana, tidak peduli dengan siapa saya harus pergi. Tidak peduli dengan angkutan apa saya berangkat dan kembali. Tapi tetap saja, favorit saya adalah kereta api. Lebih spesifik: kereta api ekonomi malam yang tidak dalam kondisi penuh padat.




Jogja kan panas. Iya, Jogja panas. Anehnya, saya tetap betah jalan kaki di sepanjang jalanan Jogja. Alasan pertama adalah karena nggak ngerti jalur angkutan umum Jogja, dan alasan kedua [yang sebenarnya paling penting] adalah karena saya memang suka. Jalanan yang masih ramah, suasana yang memanjakan isi kepala saya, perkenalan-perkenalan kecil di sepanjang jalan, sisihan-sisihan waktu di warung kopi atau warung apapun yang dihampiri untuk berteduh atau melepas haus, dan lain-lain, dan lain-lain, adalah alasan-alasan tambahan yang tidak di-ada-ada-kan.




Angkringan, kopi, obrolan ngalor ngidul, dan waktu yang tidak pernah terasa lama. Ini yang membuat liburan ke Jogja tidak pernah terasa cukup. Ini juga yang membuat saya berkhayal alangkah menyenangkannya kalau bisa jadi bagian dari kota ini.




 . . .




Dan Jogja, membiarkan saya kembali jatuh cinta, pada apapun. Jatuh cinta yang tidak sakit, karena segera bisa mendarat dengan tepat dan terus berjalan. Seperti diberitahu bahwa jalan di depan memang satu arah, tapi tidak cuma ada satu jalan. Hidup berubah. Dan saya percaya itu artinya adalah menjadi lebih baik, selama manusia mau belajar, atau bisa belajar, atau bisa dan mau belajar.




_______________ begitulah _______________



Perjalanan berikutnya adalah Solo, atau Surakarta. Tapi nanti saja lagi, perjalanan saya di Solo masih terlalu singkat untuk bisa benar-benar memahami iramanya.





Pojok timur Bandung, ujung 2011 yang belum sampai.