a repost. a memory. about you. at 8:51am
entah kapan, kata rindu rupanya berubah menjadi semacam kutukan. semacam racun yang dilabeli obat luka yang dituangkan setetes demi setetes diatas luka yang tidak pernah benar-benar kering sejak sekian waktu yang tidak perlu didefinisikan sebagai kapan.
bergeraklah, ujarnya sambil menepuk luka.
ah, senyum yang sama,
tawa yang sama,
obrolan yang berputar di ranah yang sama,
celetukan saling sindir yang sama,
dan kopi yang berganti.
dan keterbiasaan yang memilih menjadi tidak sama.
dan rindu, lagi-lagi, mewujudkan dirinya sebagai kutukan yang dirindukan pada waktu yang masih ada di kisaran entah.
lantas, kenapa masih di sini? tanyanya bisu.
beberapa pilihan memang memuakkan, tapi tetap dipilih.
adakah ini semacam dongeng soal konsekuensi? suaranya mengalir lagi.
soal kopi dan kamar mandi?
kemudian tawanya pecah. dan cangkir kopi di depanku kembali terisi penuh.
membacanya dan membacaku adalah sama dan berbeda yang sama. seperti buku yang dikemas sama dengan isi yang dijelaskan berbeda tanpa perlu ditanya mengapa.
tahu yang tahu dan tahu yang tidak tahu terputarbalikkan sempurna dengan ketidaktahuan yang disimpan manis di tempat yang diketahui dengan ketidaktahuan yang diberitahukan.
tampil dengan sempurna, kalau mengutip bahasanya.
...
pada masanya, dialog imajiner yang tidak bisa dipercaya itu berakhir dengan bias, dengan semacam keterdiaman pada bercangkir-cangkir kopi yang terus datang karena terus-menerus dibuat dan dipesankan supaya ada.
berakhir yang tidak pernah berakhir dengan alasan bahwa kopinya masih ada.
pojok warung kopi biasa, di dalam agak ke sebelah kiri, 230612
tulisan. gambar. foto. apapun. adalah tentang diri. adalah tentang hidup yang tidak begitu-begitu saja. perubahan adalah perubahan dan itu [semacam] sesuatu yang selalu ada. adalah tentang isi kepala yang berisik dan memaksa dikeluarkan.
Monday, March 10, 2014
Friday, February 21, 2014
soal yang tidak kemana-mana
...
dan tulisan yang pernah kita buat ternyata benar-benar menjadi rekam jejak tak terbantahkan soal proses pembelajaran yang pernah dan sedang kita lalui.
...
November 30, 2011 at 11:26am
obrolan soal idealisme memang tidak pernah lagi mampir di warung kopi kita. beralih dengan susunan kalimat soal kebutuhan hidup dan cita-cita seadanya karena mungkin merasa sudah tahu bahwa kesanggupan kita masih berbatas pada pencapaian-pencapaian kecil untuk diri sendiri dan orang lain dalam lingkup kecil saja.
kita berhenti berwacana soal dunia sosial yang terlalu luas untuk diurusi. diri sendiri, keluarga lama, dan atau keluarga baru kita adalah isi obrolan yang mengisi ruang-ruang menggantung dalam detik yang berjalan dengan tidak karuan.
kemudian kita larut dalam semuanya. bergembira dengan pencapaian dan kecewa dengan kegagalan. kemudian tidak ada lagi uang lima ribu kita yang akhirnya hanya kita ambil seribu untuk jatah rokok hari ini karena empat ribunya adalah untuk mengisi lapar orang.
dan permakluman serta toleransi menjadi bagian paling akrab dari alam pikiran kita. membebaskan pilihan paling tolol sekalipun untuk terjadi dan membangun penyangkalan-penyangkalan tidak bertanggungjawab yang dinikmati.
hingga pada akhirnya kita mulai jengah.
mulai mengingat-ingat dengan susah payah dan membongkar banyak dokumen lama hanya untuk sekedar mengingatkan apa yang perlu dan yang tidak. membedakan definisi yang dibutuhkan dan diinginkan, atau sekedar menyentil luka lama yang pernah dibuat dengan sengaja ataupun tidak.
pagi ini, saya menjejali diri sendiri dengan segala macam sumpah serapah yang sudah sangat lama tidak bangkit dari tidur panjangnya. memecahkan cermin dan meyalahkan ilusi optikal yang sesungguhnya disebabkan persepsi pikiran sendiri sebagai penyebab dari ketimpangan di dalam diri. kemudian menutupnya dengan pertanyaan yang sama soal apa yang sudah saya lakukan.
seperti sedang diingatkan bahwa sudah waktunya, atau sebentar lagi akan menjadi sudah waktunya, untuk berhenti membiarkan diri sendiri menjelajahi terlalu banyak kemungkinan eksperimentasi, atau manipulasi.
kita mulai menghitung waktu kita masing-masing. dengan agak sedikit frustrasi karena ada terlalu banyak ketidakseimbangan yang statusnya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. kemudian tersiksa sendirian karena tidak bisa melakukan apa-apa padahal isi kepala berteriak-teriak mengatakan bahwa harus ada yang melakukan sesuatu.
tapi begitulah. kita mulai cinta damai dan enggan beradu argumen.
dan menjadi tuli pada teriakan kita sendiri. karena mulai percaya bahwa berteriak itu adalah perilaku barbar. dan karena katanya kita semakin dewasa, itu harus berhenti dilakukan.
baiklah. saya seperti disarankan [dengan sedikit paksaan] untuk begini dan begitu dan tidak begini serta tidak begitu. dan hati tidak lagi berhasrat untuk mengatakan apapun.
lantas?
Tuhan. saya tahu saya butuh belajar ikhlas.

dalam perangkap pagi yang enggan menyapa, 301111
Wednesday, January 22, 2014
mungkin, di luar kotak.
2014!
~ datang tanpa rasa bersalah dan seolah tidak terjadi apa-apa ~
jadi begini, setelah agak lama hanya sekedar melakukan aktivitas mengangguk, membenarkan, dan mengerutkan kening, beberapa obrolan, cerita, tulisan, gambar, dan foto membuat saya jadi agak kepikiran soal sesuatu.
itu, soal yang terus bicara di sana sini bahwa kita harus punya cara berpikir yang berbeda, atau bahasa kerennya: out of the box.
singkat cerita, saya disuguhi semacam doktrin bahwa pemikiran yang out of the box itu lebih oke dan lebih keren dan ditaruh di derajat yang lebih tinggi ketimbang pemikiran yang tidak out of the box [haruskah saya sebut itu pemikiran inbox?].
kemudian, kata tanya yang mampir di kepala saya adalah: kenapa?
dalam kapasitas berpikir saya yang cuma segini-gininya, pemikiran itu adalah hasil pengolahan input yang masuk dan kolaborasinya dengan konten yang sudah ada sebelumnya.
jadi sepertinya, pemikiran yang katanya di luar kotak itu sebenarnya adalah sama saja statusnya dengan pemikiran-pemikiran lain yang juga merupakan hasil olahan di dalam diri manusia. yang membuatnya terlihat atau terasa berbeda hanya soal persepsi, juga soal konteks tempat dan waktu.
pertanyaan berikutnya di kepala saya adalah: what the box is?
kalau dijawab dengan: aturan baku, norma, prosedur, kebiasaan, tradisi, dan teman-teman sejenisnya yang membuat kita merasa di-kotak-i, saya akan kembali bertanya: bukankah sesungguhnya [dalam konteks sosial] kita adalah selalu menjadi satu bagian dari bagian yang lebih besar lagi? bukankah yang dipersepsikan sebagai "kotak-kotak" itu pun sesungguhnya hanya bagian dari sesuatu yang lebih besar dan lebih luas lagi?
bukankah kalau asumsi sebelumnya benar, maka sesungguhnya kita tidak pernah keluar dari kotak?
mungkin, selama ini pun kita cuma berpindah dari kotak yang lebih kecil ke kotak yang lebih besar saja.
itu pun cuma mungkin.
mungkin juga sebenarnya tidak pernah ada kotak. itu cuma keisengan pikiran-pikiran kita yang sering merasa benar dan kebingungan antara kenyataan dan imajinasi.
itu pun cuma mungkin.
jadi, mungkin, out of the box itu cuma kemungkinan. bukan penempatan dan situasi. apalagi status.
Tuesday, May 21, 2013
soal takdir dan pilihan.
halo. apa kabar, hidup? apa kabar, blog? apa kabar, diri?
kebiasaan buruk saya, kata seorang kawan, adalah berhenti menulis ketika semuanya dirasa baik-baik saja. seolah-olah buat saya menulis haruslah menjadi semacam bentuk komplain atau reduksi kegalauan. bisa jadi iya, bisa jadi juga tidak. tapi ya pada kenyataannya memang begini: blog ini terlantar cukup lama. jangankan ditulisi, ditengok saja tidak.
akhir tahun kemarin, saya menikah. akhirnya. iya, akhirnya. ketika saya pikir itu adalah sesuatu yang masih sangat-sangat jauh dari hidup saya, tiba-tiba dia datang dan mendekat.
dan voila, menikahlah saya.
sampai detik saya menuliskan kalimat ini pun, kadang-kadang pernikahannya masih terasa seperti mimpi. ajaib. dan saya bersyukur karenanya.
kemudian, banyak hal seolah terjadi begitu saja, dan saya menemukan diri saya yang tidak lagi terlalu banyak berteriak menolak dan menentang. menemukan diri saya yang lebih suka berkompromi dan menjalani sambil tertawa. atau ditertawakan dan menertawakan.
it's a wow.
iya, dunia berubah. juga saya. entah menjadi lebih apa selain lebih tua. tapi paling tidak, perubahan adalah semacam tanda kehidupan, semacam indikator ketidakmatian.
mengutip kutipan dari seorang kawan:
kadang, takdir menyeret kita ke tempat yang paling kita hindari.
dan begitulah. kadang, kita termakan sendiri oleh takdir yang kita hindari di masa lalu. kemudian di sinilah kita, tertawa, menertawakan diri sendiri, dan menerima dengan sukacita ketika ditertawakan.
tapi hidup toh bukan melulu soal takdir. hidup itu soal pilihan. toh takdir juga adalah hasil dari apa yang dipilih. adalah semacam kesepakatan kita dengan Tuhan soal hidup dan kehidupan. saat ini, saya mungkin bukan berhenti menolak. saya cuma mulai berjalan dengan memilih satu demi satu yang ada di depan sini. satu demi satu yang disesuaikan dan menyesuaikan. satu demi satu yang menawarkan kompromi, bukan perdebatan. satu demi satu yang layak diperjuangkan dalam kapasitasnya masing-masing.
satu demi satu yang mengajari saya mencintai yang ada.
hari ini, saya ingin bilang terimakasih termanis untuk teman satu tim kesayangan saya yang sudah rela jadi cheerleader dalam setiap hari yang saya jalani.
terimakasih tertinggi tentu saja untuk Tuhan yang sudah menyediakan banyak pilihan dan fasilitas hidup, termasuk teman-teman berceloteh yang kadang jadi ngengat.
you make my day!
mungkin, ini semua jauh dari bayangan ideal yang bisa kita susun dalam pikiran dan keinginan kita, tapi apapun, bagaimanapun, kita sudah memilih, dan kitalah yang memilih.
karena merengek dan menangis tidak akan mengubah apapun, mari bersama-sama tertawa, teman.
-di tengah kepulan asap, di dalam ruangan yang entah isinya apa. eh, siapa-
Friday, December 14, 2012
[tentang] Pernikahan dan isi kepala sesorean ini
-diawali hujan yang enggan mereda, seperti bersepakat dengan rindu-
Mungkin memang sudah waktunya saya berpikir dan bicara dan membahas dan meracau sedikit lebih serius soal sesuatu yang namanya pernikahan. Kok sedikit? Iya, sedikit saja, kalau banyak-banyak seriusnya nanti malah jadi tidak serius sama sekali. Saya masih sangat sering melakukan pertukaran tidak bertanggungjawab antara serius dan bercanda yang serius. Ah sudahlah, kapan mau mulai curhat soal pernikahannya kalau begini terus.
Menikah, sempat menjadi satu kata yang begitu saya idamkan, dulu. Dulu sekali, ketika usia saya bahkan belum genap delapan belas tahun. Waktu itu, sepertinya senang sekali membayangkan hidup dalam pernikahan, punya seseorang yang mengimami hidup saya secara penuh, punya tempat berbagi rasa dan cerita, bisa jalan gandengan tangan tanpa canggung karena memang sudah haknya, dan khayalan-khayalan tingkat anak muda terlambat dewasa yang masih sangat terkontaminasi cerita dongeng putri-putri jaman dahulu: bertemu pangeran yang menyelamatkan dari kesedihan, kemudian hidup bahagia selamanya. Oke, cukup.
Kemudian, fase bergeser, entah kapan, dan sudah lupa soal kenapanya. Saya menjadi seseorang yang tidak menginginkan pernikahan, merasa sanggup hidup sendirian, dan muak dengan hubungan. Pikir saya, buat apa menjalani sesuatu yang cuma akan merepotkan? Iya, pernikahan, dan juga bentuk hubungan serius antara lelaki dan perempuan dalam bentuk apapun adalah cikal bakal hidup yang tidak simpel dan tidak bebas. Belum lagi kasus ini itu yang menimpa rumah tangga beberapa orang yang saya kenal dan [entah kenapa] diceritakan yang bersangkutan kepada saya. Semakin enggan lah saya untuk berpikir mengenai pernikahan, apalagi berusaha menuju ke arah sana. Idih.
Dan sepertinya, fase ini berlangsung lama. Cukup lama untuk membuat saya fokus menikmati hidup yang isinya adalah saya dan dunia, sudah.
Nah, kemudian, kelabilan tingkat tinggi datang dan menghantami keinginan-keinginan, rasa percaya, pemikiran, keputusan, perilaku, dan sangat sangat banyak aspek dalam hidup saya yang sebetulnya memang tidak pernah cukup stabil itu. Ada gamang yang semakin jelas antara mau dan tidak.
Sampai suatu hari, obrolan dengan seorang teman membuat saya menertawai diri saya habis-habisan. Iya, sendirian itu mudah, keputusan cukup diambil sendiri, tidak perlu ribet menanyakan pendapat pasangan dan berkompromi dengan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian yang mungkin timbul. Tapi, apa tidak lantas hidup jadi kurang menantang?
Saya, jujur saja, sangat menikmati hidup yang tidak terikat pada siapapun itu, tapi juga membenarkan bahwa mereka yang pada akhirnya memutuskan untuk menikah setelah benar-benar yakin, setelah benar-benar mempertimbangkan ini dan itu, adalah para pemberani yang sebenarnya. Saya harus mengakui bahwa keputusan menikah yang diambil dengan dilandasi rasa tanggungjawab itu hanya bisa dilakukan oleh individu yang punya cukup keberanian. Dan sayangnya, itu bukan saya saat itu. Di situ, saya sadar bahwa saya adalah sejenis pengecut yang berlindung dibalik nama kebebasan dan kawan-kawannya. Benar bahwa kebebasan menikmati hidup adalah apa yang saya mau. Benar bahwa itu memang demikian menyenangkan. Tapi, bukankah kebebasan tanpa keterbatasan akan menjadi tidak demikian berharga?
Singkat cerita, dalam tahun-tahun terakhir ini saya mulai memasukkan "menikah" di dalam kamus pribadi saya. Pernah gagal, terjebak, dan menjebakkan diri dalam rasa dan persepsi yang berbelit-belit dan berwujud labirin tak terdefinisi. Kemudian belajar berdamai dengan diri sendiri dan lebih percaya pada niat baik dan kuasa Tuhan.
Iya, hidup jelas saja tidak melulu soal menikah dan tidak menikah. Tidak menikah tidak membuat manusia mati kok, kalau tidak makan dan tidak minum, mungkin iya. Itu kalimat yang cukup sering terlontar dari saya ketika pertanyaan soal pernikahan mampir dalam hari-hari saya. Tapi sore ini, kepala saya memang sedang ramai dilintasi bahasan soal pernikahan. Jadi ya saya tulis. Maksudnya, saya curhatkan di blog tak terurus ini. Supaya lega, supaya kepala bisa diisi yang lain lagi.
Pernikahan, yang saya pahami di sore ini, bukanlah melulu soal rasa. Bukan cuma soal saya sayang dia dan dia sayang saya. Pernikahan, yang saya pahami dalam suara hujan sesorean ini adalah juga soal niat baik, komitmen, keinginan membangun sesuatu yang lebih baik, kompromi, ke-saling-an yang dinikmati, kepercayaan penuh, keberanian memutuskan, usaha, penerimaan, keseimbangan, soliditas tim, dan kegembiraan soal masa depan yang tidak bisa dipastikan itu.
Pernikahan, dalam kepala saya sore ini adalah tentang pilihan dan keberanian mengambil keputusan, plus menanggung segala resiko dan atau konsekuensi dari keputusan itu sendiri. Pernikahan, adalah tentang fase hidup yang bukan lebih tinggi atau lebih rendah, tapi berada dalam jarak yang tidak sama.
Pernikahan pun, bagi saya di sore ini, adalah tentang satu nama yang disandingkan dengan jajaran harapan dan mimpi yang tak perlu dijelaskan panjang lebar pada yang tidak berkepentingan.
Begitulah.
Dan mungkin, ini adalah alasan kenapa sesorean ini kepala saya penuh dengan cerita dan racauan soal pernikahan: saya sedang merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.
Kalau ada yang baca tulisan ini, doakan saya ya, semoga hati saya dikuatkan dan dilembutkan, supaya niat baik yang sedang direncanakan ini bisa direalisasikan dengan baik dan membawa kebaikan untuk semua pihak, semoga apa yang diputuskan untuk dijalani menjadi sesuatu yang penuh manfaat, memberi rasa nyaman dan menyamankan, mengantarkan saya pada arti hidup yang lebih daripada apa yang bisa saya ekspektasikan selama ini.
Doakan saya ya, semoga saya diizinkan mencintai dengan ketulusan yang bahkan saya tidak pernah tahu wujudnya seperti apa itu.
Doakan saya supaya saya bisa mewujudkan bangunan-bangunan kokoh dalam kehidupan yang disediakan untuk saya jalani ini. Doakan saya :)
Terimakasih tertinggi untuk Tuhan yang sudah memberi hidup.
dan untuk semua orang yang hadir dalam cerita saya, yang membuat saya bisa menuliskan ini semua di sore ini.
nb: saya suka cincin yang kamu pilihkan itu. serius.
Mungkin memang sudah waktunya saya berpikir dan bicara dan membahas dan meracau sedikit lebih serius soal sesuatu yang namanya pernikahan. Kok sedikit? Iya, sedikit saja, kalau banyak-banyak seriusnya nanti malah jadi tidak serius sama sekali. Saya masih sangat sering melakukan pertukaran tidak bertanggungjawab antara serius dan bercanda yang serius. Ah sudahlah, kapan mau mulai curhat soal pernikahannya kalau begini terus.
Menikah, sempat menjadi satu kata yang begitu saya idamkan, dulu. Dulu sekali, ketika usia saya bahkan belum genap delapan belas tahun. Waktu itu, sepertinya senang sekali membayangkan hidup dalam pernikahan, punya seseorang yang mengimami hidup saya secara penuh, punya tempat berbagi rasa dan cerita, bisa jalan gandengan tangan tanpa canggung karena memang sudah haknya, dan khayalan-khayalan tingkat anak muda terlambat dewasa yang masih sangat terkontaminasi cerita dongeng putri-putri jaman dahulu: bertemu pangeran yang menyelamatkan dari kesedihan, kemudian hidup bahagia selamanya. Oke, cukup.
Kemudian, fase bergeser, entah kapan, dan sudah lupa soal kenapanya. Saya menjadi seseorang yang tidak menginginkan pernikahan, merasa sanggup hidup sendirian, dan muak dengan hubungan. Pikir saya, buat apa menjalani sesuatu yang cuma akan merepotkan? Iya, pernikahan, dan juga bentuk hubungan serius antara lelaki dan perempuan dalam bentuk apapun adalah cikal bakal hidup yang tidak simpel dan tidak bebas. Belum lagi kasus ini itu yang menimpa rumah tangga beberapa orang yang saya kenal dan [entah kenapa] diceritakan yang bersangkutan kepada saya. Semakin enggan lah saya untuk berpikir mengenai pernikahan, apalagi berusaha menuju ke arah sana. Idih.
Dan sepertinya, fase ini berlangsung lama. Cukup lama untuk membuat saya fokus menikmati hidup yang isinya adalah saya dan dunia, sudah.
Nah, kemudian, kelabilan tingkat tinggi datang dan menghantami keinginan-keinginan, rasa percaya, pemikiran, keputusan, perilaku, dan sangat sangat banyak aspek dalam hidup saya yang sebetulnya memang tidak pernah cukup stabil itu. Ada gamang yang semakin jelas antara mau dan tidak.
Sampai suatu hari, obrolan dengan seorang teman membuat saya menertawai diri saya habis-habisan. Iya, sendirian itu mudah, keputusan cukup diambil sendiri, tidak perlu ribet menanyakan pendapat pasangan dan berkompromi dengan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian yang mungkin timbul. Tapi, apa tidak lantas hidup jadi kurang menantang?
Saya, jujur saja, sangat menikmati hidup yang tidak terikat pada siapapun itu, tapi juga membenarkan bahwa mereka yang pada akhirnya memutuskan untuk menikah setelah benar-benar yakin, setelah benar-benar mempertimbangkan ini dan itu, adalah para pemberani yang sebenarnya. Saya harus mengakui bahwa keputusan menikah yang diambil dengan dilandasi rasa tanggungjawab itu hanya bisa dilakukan oleh individu yang punya cukup keberanian. Dan sayangnya, itu bukan saya saat itu. Di situ, saya sadar bahwa saya adalah sejenis pengecut yang berlindung dibalik nama kebebasan dan kawan-kawannya. Benar bahwa kebebasan menikmati hidup adalah apa yang saya mau. Benar bahwa itu memang demikian menyenangkan. Tapi, bukankah kebebasan tanpa keterbatasan akan menjadi tidak demikian berharga?
Singkat cerita, dalam tahun-tahun terakhir ini saya mulai memasukkan "menikah" di dalam kamus pribadi saya. Pernah gagal, terjebak, dan menjebakkan diri dalam rasa dan persepsi yang berbelit-belit dan berwujud labirin tak terdefinisi. Kemudian belajar berdamai dengan diri sendiri dan lebih percaya pada niat baik dan kuasa Tuhan.
Iya, hidup jelas saja tidak melulu soal menikah dan tidak menikah. Tidak menikah tidak membuat manusia mati kok, kalau tidak makan dan tidak minum, mungkin iya. Itu kalimat yang cukup sering terlontar dari saya ketika pertanyaan soal pernikahan mampir dalam hari-hari saya. Tapi sore ini, kepala saya memang sedang ramai dilintasi bahasan soal pernikahan. Jadi ya saya tulis. Maksudnya, saya curhatkan di blog tak terurus ini. Supaya lega, supaya kepala bisa diisi yang lain lagi.
Pernikahan, yang saya pahami di sore ini, bukanlah melulu soal rasa. Bukan cuma soal saya sayang dia dan dia sayang saya. Pernikahan, yang saya pahami dalam suara hujan sesorean ini adalah juga soal niat baik, komitmen, keinginan membangun sesuatu yang lebih baik, kompromi, ke-saling-an yang dinikmati, kepercayaan penuh, keberanian memutuskan, usaha, penerimaan, keseimbangan, soliditas tim, dan kegembiraan soal masa depan yang tidak bisa dipastikan itu.
Pernikahan, dalam kepala saya sore ini adalah tentang pilihan dan keberanian mengambil keputusan, plus menanggung segala resiko dan atau konsekuensi dari keputusan itu sendiri. Pernikahan, adalah tentang fase hidup yang bukan lebih tinggi atau lebih rendah, tapi berada dalam jarak yang tidak sama.
Pernikahan pun, bagi saya di sore ini, adalah tentang satu nama yang disandingkan dengan jajaran harapan dan mimpi yang tak perlu dijelaskan panjang lebar pada yang tidak berkepentingan.
Begitulah.
Dan mungkin, ini adalah alasan kenapa sesorean ini kepala saya penuh dengan cerita dan racauan soal pernikahan: saya sedang merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.
Kalau ada yang baca tulisan ini, doakan saya ya, semoga hati saya dikuatkan dan dilembutkan, supaya niat baik yang sedang direncanakan ini bisa direalisasikan dengan baik dan membawa kebaikan untuk semua pihak, semoga apa yang diputuskan untuk dijalani menjadi sesuatu yang penuh manfaat, memberi rasa nyaman dan menyamankan, mengantarkan saya pada arti hidup yang lebih daripada apa yang bisa saya ekspektasikan selama ini.
Doakan saya ya, semoga saya diizinkan mencintai dengan ketulusan yang bahkan saya tidak pernah tahu wujudnya seperti apa itu.
Doakan saya supaya saya bisa mewujudkan bangunan-bangunan kokoh dalam kehidupan yang disediakan untuk saya jalani ini. Doakan saya :)
Terimakasih tertinggi untuk Tuhan yang sudah memberi hidup.
dan untuk semua orang yang hadir dalam cerita saya, yang membuat saya bisa menuliskan ini semua di sore ini.
di tengah-tengah meja, antara deras hujan dan rindu yang semena-mena, 14Desember2012
nb: saya suka cincin yang kamu pilihkan itu. serius.
Subscribe to:
Posts (Atom)