tulisan. gambar. foto. apapun. adalah tentang diri. adalah tentang hidup yang tidak begitu-begitu saja. perubahan adalah perubahan dan itu [semacam] sesuatu yang selalu ada. adalah tentang isi kepala yang berisik dan memaksa dikeluarkan.
Thursday, April 24, 2008
Aaaaaaarrrrrgggghhhh!!!!
kenapa ada di sini?
sejak kapan?
...
aku nggak berani berharap kamu akan tahu cerita ini,
karena aku berhenti berharap untuk mendapat lebih. dari kamu, atau siapapun. aku sudah nggak lagi berharap.
aku cuma ingin melihat, mendengar, dan merasakan keberadaanmu.
tahu-tahu kamu ada di situ, di pojok hati yang kemarin tak terisi.
tiba-tiba kamu hadir dengan semuanya. tersenyum. tertawa.
membuatku kembali seperti anak-anak yang mampu berkejaran dengan senang.
senang yang sudah lama aku lupakan.
lupa karena gengsi. lupa karena bicara usia.
lupa karena orang bilang sudah bukan waktunya.
kamu merebut lamunan malamku,
mengisinya dengan mimpi tentang perebutan syal dan keisengan anak kecil lainnya.
kamu pasti tertawa kalau kubilang tentang kamu yang hadir dalam inginku setelah beberapa jam itu.
kamu tahu,
saat ini kamu dan semua memori tentang kamu di saat itu jadi terlalu menyedihkan untuk diingat.
karena mungkin nggak akan ada lagi permainan anak-anak seperti waktu itu.
karena mungkin aku sudah kehilangan kesempatan untuk menjadi anak-anak kembali dalam sekejap denganmu...
terimakasih untuk tawa yang sudah lama tak hadir itu,
terimakasih untuk tanggapannya,
meskipun kamu nggak benar-benar tahu...
Thursday, March 27, 2008
tentang lelaki di atas vespa merah,
Aku sudah lama jatuh cinta pada lelaki di atas vespa merah itu.
Sejak ia muncul dengan arogansinya sebagai senior di hadapanku, aku tahu aku sudah jatuh cinta. Tahun-tahun kuliahku kulewati dengan jatuh cinta. Jatuh cinta pada semua tentangnya. Pada arogansi yang tak terbantahkan miliknya, pada suara tawa dan obrolannya, pada karyanya, aku tahu aku jatuh cinta. Dan aku tahu akan ketidaktahuannya bahwa ia telah membuatku jatuh cinta.
Aku sadar aku bukanlah satu-satunya orang yang jatuh cinta padanya. Tapi apa peduliku dengan sederet panjang nama yang mengaku jatuh cinta padanya? Aku tak peduli dan tak pernah peduli. Aku tak berminat bersaing dengan deretan nama itu untuk menarik perhatian dan mengharap balasan cinta dari lelaki di atas vespa merah itu. Aku hanya jatuh cinta pada semua tentangnya. Hanya ingin terus memandanginya sepuas hati, mendengarkan nada-nada yang keluar tanpa aturan dari bibirnya, menikmati satu per satu karya yang benar-benar khas dirinya, dan membangun imajiku dengan bebas tentangnya. Tentang lelaki yang ada di atas vespa merah itu.
Aku bermimpi ia akan mengingat namaku dan melafalkannya dengan baik saat berpapapsan di koridor sempit kampus suatu saat nanti. Tapi cuma bermimpi, tak lebih lagi. Ia tak mengenalku kecuali sebagai “junior yang sering kelihatan”. Itu pun lumayan, daripada ia tak pernah melihatku sama sekali. Satu waktu pernah kucoba menyelusup dan menceburkan diri ke dalam dunia tempatnya berpijak, sambil memuaskan diriku menikmati semua tentangnya. Empirik ataupun tidak. Namun satu dan lain hal yang tak bisa kuhindari memaksaku meninggalkan tempat itu, dan mengeksiskan diri di tempat yang lain. Sial.
Aku masih jatuh cinta pada lelaki di atas vespa merah itu. Hingga saat ini, ketika ia [seperti biasa] membuat keributan di sisi koridor gedung dua. Satu yang berbeda, kali ini ia melakukannya dengan mata yang lekat memandangi gadis berambut lurus sebahu di depannya. Ah, jatuh cintakah lelaki itu padanya? Wajahnya kelihatan lebih sumringah daripada biasanya, bahasa tubuhnya juga lebih lembut dan santai. Sepertinya lelaki di atas vespa merah itu telah jatuh cinta pada gadis berambut lurus sebahu itu. Benar-benar jatuh cinta. Aku bisa membayangkan lelaki itu menyebut nama sang gadis dalam lamunan menjelang tidurnya, dan melafalkan namanya dengan benar setiap hari. Melafalkan dengan nada orang jatuh cinta. Dengan nada yang bahkan dalam mimpi pun tak berani kualami.
Lelaki di atas vespa merah itu memang jatuh cinta. Tapi tak ada hubungannya denganku. Tak peduli pada siapa lelaki itu jatuh cinta, aku tahu aku akan tetap jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada semua tentangnya, termasuk pada caranya jatuh cinta.
Mata ini masih memandangnya dengan sangat berminat. Memandang lelaki di atas vespa merah itu tertawa, ditertawakan, dan menertawakan. Mengamati patah-patah gerakan tubuhnya yang bercerita begitu banyak. Merekam dengan baik raut sumringahnya, gerak dinamis tangannya, gelengan kepala, dan hentakan kakinya. Menikmati satu demi satu gerakan yang ia buat dan nada demi nada yang ia keluarkan. Lihatlah betapa ia telah membuatku jatuh cinta!
Lelaki di atas vespa merah itu telah berkali-kali membuatku jatuh cinta. Kumohon, tetaplah di sana, tetaplah berada di atas vespa merahmu yang tak ada duanya di sini.
Hembuskanlah nafasmu…
Bergeraklah…
Bersuaralah…
Berkaryalah…
Dan aku akan selalu kembali jatuh cinta padamu.
Kembali jatuh cinta dengan cara yang sama pada lelaki di atas vespa merah itu.
cuma sebuah cerita,
potongan cerita dari kampus dengan ketidakmuraman yang ada,
nb. buat yang tau siapa orangnya, diem2 aja yah...
heehehehehe....
Sunday, March 02, 2008
tentang dia sekali lagi
titik.
kemudian titik lagi.
lalu tanda seru.
ya, aku mencintanya karena alasan yang tak pernah kupahami.
atau jangan-jangan aku mencintanya karena tuhan.
tidak tahu.
aku cuma tahu tentang mencintanya hingga hari ini.
selesai.
Saturday, February 09, 2008
tentang jogja
kayaknya seperempat hati ini masih nyangkut di jogja...
di angkringan deket tugu,
di jalanan malioboro,
di bebeng,
di gang-gang kecil tempat berteduh saat hujan dan cari makan,
di jalan-jalan menuju tempat yang kemarin belum sempat kusambangi...
hhh...
jogja memang begitu melankolis buatku,
sekali lagi jangan tanya kenapa,
aku cuma merasa begitu betah berada di sana dan menikmati segala alur kehidupannya...
apa mungkin karena tahun pertama kelahiranku kuhabiskan di sana?
atau karena kedua orangtuaku senang sekali menceritakan nostalgia mereka tentang jogja?
kadang-kadang aku merasa agak terlalu terobsesi dengan kota yang satu ini,
meskipun adakota-kota lain yang juga menarik untukku, tapi jogja tetap saja berbeda...
duh!
terobsesi kok sama kota???
menyusuri jalan-jalan di jogja menimbulkan perasaan aneh dalam diriku,
kangen,
sedih,
santai,
tak ingin pergi lagi,
benar-benar tak ingin pergi...
hahahaha...
jujur saja, terlintas dalam benakku untuk memutarkan hidupku selanjutnya di kota ini,
meski aku tak kenal medannya,
meski aku masih tak bisa mengerti bahasanya,
tapi aku ingin hidup di sana...
aneh ya?
aku lahir di jogja, sempat tinggal di lampung dan palembang, lalu besar di bandung,
mengaku sebagai orang sumatra selatan...
dan dari semuanya, kenapa mesti jogja?
apakah mungkin kota itu punya irama yang sama denganku?
irama kehidupan yang selama ini aku cari untuk dinikmati...
ah, melankolis!
jogja selalu bisa membuatku betah menghabiskan berjam-jam berdiam diri merenung dan menikmati...
membuatku tidak merasa kesepian walaupun sendirian...
aduuuuuh...
kok jadi tambah gini postingannya?
kaco...
btw, jalan-jalan di jogja kemaren memang luar biasa!
penerimaan temen2 forkom jogja juga ternyata jauh melebihi apa yang diharapkan...
mereka juga luar biasa...
a very nice moment...
semoga aku bisa ke jogja lagi dalam waktu yang tidak terlalu jauh...
*ngarepppp*
hohoho...
ada yang mau ikut?
