Tuesday, September 09, 2014

semacam acak-acakan yang distandarkan.


akhir-akhir ini sepertinya dunia ter-refleksikan dengan sedikit buram di dalam kepala. atau di luarnya. atau di mana saja.
kejelasan beranjak menjadi ketidakjelasan yang diperdebatkan. yang katanya sedang diusahakan supaya bisa terlihat sebagai kejelasan. 
iya, terlihat. 
dan kita sudah sama-sama tahu, apa yang terlihat belum tentu sama dengan yang sebenarnya ada.





pada cerita di sisi sebelah sini, obrolan-obrolan masih mengacak sesukanya, menempati posisi-posisi strategis supaya bisa menggeser jajaran standar basa basi yang tidak terstandar dan tidak sungguh-sungguh berusaha distandarkan. 

rasanya seperti semacam mengkuantifikasikan kualitas. menafikkan terminologi selera yang biasanya disandingkan dengan kemewahan subjektifitas individu.

kadang, orientasi tujuan berakhir pada frase fomalitas. sekedar disetujui untuk ditandatangani. bukan diterapkan. apalagi diusahakan sungguh-sungguh untuk pencapaian tujuan.




... waktunya menarik nafas panjang. dan menghembuskannya pelan-pelan.

boleh meminta?
tolong jangan ambil kopi dan ritme yang dibawanya dari saya.





090914
-di atas meja tanpa cerita, diantara ledakan bom asap dalam kepala-

Monday, March 10, 2014

tentang rindu, atau tentang cangkir kopi.

a repost. a memory. about you. at 8:51am

entah kapan, kata rindu rupanya berubah menjadi semacam kutukan. semacam racun yang dilabeli obat luka yang dituangkan setetes demi setetes diatas luka yang tidak pernah benar-benar kering sejak sekian waktu yang tidak perlu didefinisikan sebagai kapan.

bergeraklah, ujarnya sambil menepuk luka.

ah, senyum yang sama,
tawa yang sama,
obrolan yang berputar di ranah yang sama,
celetukan saling sindir yang sama,
dan kopi yang berganti.
dan keterbiasaan yang memilih menjadi tidak sama.
dan rindu, lagi-lagi, mewujudkan dirinya sebagai kutukan yang dirindukan pada waktu yang masih ada di kisaran entah.


lantas, kenapa masih di sini? tanyanya bisu.
beberapa pilihan memang memuakkan, tapi tetap dipilih.

adakah ini semacam dongeng soal konsekuensi? suaranya mengalir lagi.
soal kopi dan kamar mandi?

kemudian tawanya pecah. dan cangkir kopi di depanku kembali terisi penuh.


membacanya dan membacaku adalah sama dan berbeda yang sama. seperti buku yang dikemas sama dengan isi yang dijelaskan berbeda tanpa perlu ditanya mengapa.
tahu yang tahu dan tahu yang tidak tahu terputarbalikkan sempurna dengan ketidaktahuan yang disimpan manis di tempat yang diketahui dengan ketidaktahuan yang diberitahukan.
tampil dengan sempurna, kalau mengutip bahasanya.

...
 

pada masanya, dialog imajiner yang tidak bisa dipercaya itu berakhir dengan bias, dengan semacam keterdiaman pada bercangkir-cangkir kopi yang terus datang karena terus-menerus dibuat dan dipesankan supaya ada.

berakhir yang tidak pernah berakhir dengan alasan bahwa kopinya masih ada.


pojok warung kopi biasa, di dalam agak ke sebelah kiri, 230612


Friday, February 21, 2014

soal yang tidak kemana-mana


...
dan tulisan yang pernah kita buat ternyata benar-benar menjadi rekam jejak tak terbantahkan soal proses pembelajaran yang pernah dan sedang kita lalui.
...


November 30, 2011 at 11:26am


obrolan soal idealisme memang tidak pernah lagi mampir di warung kopi kita. beralih dengan susunan kalimat soal kebutuhan hidup dan cita-cita seadanya karena mungkin merasa sudah tahu bahwa kesanggupan kita masih berbatas pada pencapaian-pencapaian kecil untuk diri sendiri dan orang lain dalam lingkup kecil saja.

kita berhenti berwacana soal dunia sosial yang terlalu luas untuk diurusi. diri sendiri, keluarga lama, dan atau keluarga baru kita adalah isi obrolan yang mengisi ruang-ruang menggantung dalam detik yang berjalan dengan tidak karuan.

kemudian kita larut dalam semuanya. bergembira dengan pencapaian dan kecewa dengan kegagalan. kemudian tidak ada lagi uang lima ribu kita yang akhirnya hanya kita ambil seribu untuk jatah rokok hari ini karena empat ribunya adalah untuk mengisi lapar orang.
dan permakluman serta toleransi menjadi bagian paling akrab dari alam pikiran kita. membebaskan pilihan paling tolol sekalipun untuk terjadi dan membangun penyangkalan-penyangkalan tidak bertanggungjawab yang dinikmati. 

hingga pada akhirnya kita mulai jengah. 
mulai mengingat-ingat dengan susah payah dan membongkar banyak dokumen lama hanya untuk sekedar mengingatkan apa yang perlu dan yang tidak. membedakan definisi yang dibutuhkan dan diinginkan, atau sekedar menyentil luka lama yang pernah dibuat dengan sengaja ataupun tidak.

pagi ini, saya menjejali diri sendiri dengan segala macam sumpah serapah yang sudah sangat lama tidak bangkit dari tidur panjangnya. memecahkan cermin dan meyalahkan ilusi optikal yang sesungguhnya disebabkan persepsi pikiran sendiri sebagai penyebab dari ketimpangan di dalam diri. kemudian menutupnya dengan pertanyaan yang sama soal apa yang sudah saya lakukan.

seperti sedang diingatkan bahwa sudah waktunya, atau sebentar lagi akan menjadi sudah waktunya, untuk berhenti membiarkan diri sendiri menjelajahi terlalu banyak kemungkinan eksperimentasi, atau manipulasi.

kita mulai menghitung waktu kita masing-masing. dengan agak sedikit frustrasi karena ada terlalu banyak ketidakseimbangan yang statusnya sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. kemudian tersiksa sendirian karena tidak bisa melakukan apa-apa padahal isi kepala berteriak-teriak mengatakan bahwa harus ada yang melakukan sesuatu.

tapi begitulah. kita mulai cinta damai dan enggan beradu argumen. 

dan menjadi tuli pada teriakan kita sendiri. karena mulai percaya bahwa berteriak itu adalah perilaku barbar. dan karena katanya kita semakin dewasa, itu harus berhenti dilakukan.

baiklah. saya seperti disarankan [dengan sedikit paksaan] untuk begini dan begitu dan tidak begini serta tidak begitu. dan hati tidak lagi berhasrat untuk mengatakan apapun.


lantas?

Tuhan. saya tahu saya butuh belajar ikhlas.

  

dalam perangkap pagi yang enggan menyapa, 301111

Wednesday, January 22, 2014

mungkin, di luar kotak.


2014!
~ datang tanpa rasa bersalah dan seolah tidak terjadi apa-apa ~

jadi begini, setelah agak lama hanya sekedar melakukan aktivitas mengangguk, membenarkan, dan mengerutkan kening, beberapa obrolan, cerita, tulisan, gambar, dan foto membuat saya jadi agak kepikiran soal sesuatu. 
itu, soal yang terus bicara di sana sini bahwa kita harus punya cara berpikir yang berbeda, atau bahasa kerennya: out of the box.

singkat cerita, saya disuguhi semacam doktrin bahwa pemikiran yang out of the box itu lebih oke dan lebih keren dan ditaruh di derajat yang lebih tinggi ketimbang pemikiran yang tidak out of the box [haruskah saya sebut itu pemikiran inbox?]. 


kemudian, kata tanya yang mampir di kepala saya adalah: kenapa?

dalam kapasitas berpikir saya yang cuma segini-gininya, pemikiran itu adalah hasil pengolahan input yang masuk dan kolaborasinya dengan konten yang sudah ada sebelumnya. 

jadi sepertinya, pemikiran yang katanya di luar kotak itu sebenarnya adalah sama saja statusnya dengan pemikiran-pemikiran lain yang juga merupakan hasil olahan di dalam diri manusia. yang membuatnya terlihat atau terasa berbeda hanya soal persepsi, juga soal konteks tempat dan waktu.

pertanyaan berikutnya di kepala saya adalah: what the box is?

kalau dijawab dengan: aturan baku, norma, prosedur, kebiasaan, tradisi, dan teman-teman sejenisnya yang membuat kita merasa di-kotak-i, saya akan kembali bertanya: bukankah sesungguhnya [dalam konteks sosial] kita adalah selalu menjadi satu bagian dari bagian yang lebih besar lagi? bukankah yang dipersepsikan sebagai "kotak-kotak" itu pun sesungguhnya hanya bagian dari sesuatu yang lebih besar dan lebih luas lagi? 


bukankah kalau asumsi sebelumnya benar, maka sesungguhnya kita tidak pernah keluar dari kotak?

mungkin, selama ini pun kita cuma berpindah dari kotak yang lebih kecil ke kotak yang lebih besar saja.
itu pun cuma mungkin.

mungkin juga sebenarnya tidak pernah ada kotak. itu cuma keisengan pikiran-pikiran kita yang sering merasa benar dan kebingungan antara kenyataan dan imajinasi. 
itu pun cuma mungkin.


jadi, mungkin, out of the box itu cuma kemungkinan. bukan penempatan dan situasi. apalagi status.









Tuesday, May 21, 2013

soal takdir dan pilihan.



halo. apa kabar, hidup? apa kabar, blog? apa kabar, diri?

kebiasaan buruk saya, kata seorang kawan, adalah berhenti menulis ketika semuanya dirasa baik-baik saja. seolah-olah buat saya menulis haruslah menjadi semacam bentuk komplain atau reduksi kegalauan. bisa jadi iya, bisa jadi juga tidak. tapi ya pada kenyataannya memang begini: blog ini terlantar cukup lama. jangankan ditulisi, ditengok saja tidak.

akhir tahun kemarin, saya menikah. akhirnya. iya, akhirnya. ketika saya pikir itu adalah sesuatu yang masih sangat-sangat jauh dari hidup saya, tiba-tiba dia datang dan mendekat. 
dan voila, menikahlah saya. 
sampai detik saya menuliskan kalimat ini pun, kadang-kadang pernikahannya masih terasa seperti mimpi. ajaib. dan saya bersyukur karenanya.

kemudian, banyak hal seolah terjadi begitu saja, dan saya menemukan diri saya yang tidak lagi terlalu banyak berteriak menolak dan menentang. menemukan diri saya yang lebih suka berkompromi dan menjalani sambil tertawa. atau ditertawakan dan menertawakan. 
it's a wow.
iya, dunia berubah. juga saya. entah menjadi lebih apa selain lebih tua. tapi paling tidak, perubahan adalah semacam tanda kehidupan, semacam indikator ketidakmatian.

mengutip kutipan dari seorang kawan: 
kadang, takdir menyeret kita ke tempat yang paling kita hindari.
dan begitulah. kadang, kita termakan sendiri oleh takdir yang kita hindari di masa lalu. kemudian di sinilah kita, tertawa, menertawakan diri sendiri, dan menerima dengan sukacita ketika ditertawakan. 

tapi hidup toh bukan melulu soal takdir. hidup itu soal pilihan. toh takdir juga adalah hasil dari apa yang dipilih. adalah semacam kesepakatan kita dengan Tuhan soal hidup dan kehidupan. saat ini, saya mungkin bukan berhenti menolak. saya cuma mulai berjalan dengan memilih satu demi satu yang ada di depan sini. satu demi satu yang disesuaikan dan menyesuaikan. satu demi satu yang menawarkan kompromi, bukan perdebatan. satu demi satu yang layak diperjuangkan dalam kapasitasnya masing-masing. 
satu demi satu yang mengajari saya mencintai yang ada.


hari ini, saya ingin bilang terimakasih termanis untuk teman satu tim kesayangan saya yang sudah rela jadi cheerleader dalam setiap hari yang saya jalani. 
terimakasih tertinggi tentu saja untuk Tuhan yang sudah menyediakan banyak pilihan dan fasilitas hidup, termasuk teman-teman berceloteh yang kadang jadi ngengat. 
you make my day! 

mungkin, ini semua jauh dari bayangan ideal yang bisa kita susun dalam pikiran dan keinginan kita, tapi apapun, bagaimanapun, kita sudah memilih, dan kitalah yang memilih.
karena merengek dan menangis tidak akan mengubah apapun, mari bersama-sama tertawa, teman.


-di tengah kepulan asap, di dalam ruangan yang entah isinya apa. eh, siapa-

Friday, December 14, 2012

[tentang] Pernikahan dan isi kepala sesorean ini

-diawali hujan yang enggan mereda, seperti bersepakat dengan rindu-



Mungkin memang sudah waktunya saya berpikir dan bicara dan membahas dan meracau sedikit lebih serius soal sesuatu yang namanya pernikahan. Kok sedikit? Iya, sedikit saja, kalau banyak-banyak seriusnya nanti malah jadi tidak serius sama sekali. Saya masih sangat sering melakukan pertukaran tidak bertanggungjawab antara serius dan bercanda yang serius. Ah sudahlah, kapan mau mulai curhat soal pernikahannya kalau begini terus.


Menikah, sempat menjadi satu kata yang begitu saya idamkan, dulu. Dulu sekali, ketika usia saya bahkan belum genap delapan belas tahun. Waktu itu, sepertinya senang sekali membayangkan hidup dalam pernikahan, punya seseorang yang mengimami hidup saya secara penuh, punya tempat berbagi rasa dan cerita, bisa jalan gandengan tangan tanpa canggung karena memang sudah haknya, dan khayalan-khayalan tingkat anak muda terlambat dewasa yang masih sangat terkontaminasi cerita dongeng putri-putri jaman dahulu: bertemu pangeran yang menyelamatkan dari kesedihan, kemudian hidup bahagia selamanya. Oke, cukup. 




Kemudian, fase bergeser, entah kapan, dan sudah lupa soal kenapanya. Saya menjadi seseorang yang tidak menginginkan pernikahan, merasa sanggup hidup sendirian, dan muak dengan hubungan. Pikir saya, buat apa menjalani sesuatu yang cuma akan merepotkan? Iya, pernikahan, dan juga bentuk hubungan serius antara lelaki dan perempuan dalam bentuk apapun adalah cikal bakal hidup yang tidak simpel dan tidak bebas. Belum lagi kasus ini itu yang menimpa rumah tangga beberapa orang yang saya kenal dan [entah kenapa] diceritakan yang bersangkutan kepada saya. Semakin enggan lah saya untuk berpikir mengenai pernikahan, apalagi berusaha menuju ke arah sana. Idih. 

Dan sepertinya, fase ini berlangsung lama. Cukup lama untuk membuat saya fokus menikmati hidup yang isinya adalah saya dan dunia, sudah. 


Nah, kemudian, kelabilan tingkat tinggi datang dan menghantami keinginan-keinginan, rasa percaya, pemikiran, keputusan, perilaku, dan sangat sangat banyak aspek dalam hidup saya yang sebetulnya memang tidak pernah cukup stabil itu. Ada gamang yang semakin jelas antara mau dan tidak. 
Sampai suatu hari, obrolan dengan seorang teman membuat saya menertawai diri saya habis-habisan. Iya, sendirian itu mudah, keputusan cukup diambil sendiri, tidak perlu ribet menanyakan pendapat pasangan dan berkompromi dengan ketidaksesuaian-ketidaksesuaian yang mungkin timbul. Tapi, apa tidak lantas hidup jadi kurang menantang? 

Saya, jujur saja, sangat menikmati hidup yang tidak terikat pada siapapun itu, tapi juga membenarkan bahwa mereka yang pada akhirnya memutuskan untuk menikah setelah benar-benar yakin, setelah benar-benar mempertimbangkan ini dan itu, adalah para pemberani yang sebenarnya. Saya harus mengakui bahwa keputusan menikah yang diambil dengan dilandasi rasa tanggungjawab itu hanya bisa dilakukan oleh individu yang punya cukup keberanian. Dan sayangnya, itu bukan saya saat itu. Di situ, saya sadar bahwa saya adalah sejenis pengecut yang berlindung dibalik nama kebebasan dan kawan-kawannya. Benar bahwa kebebasan menikmati hidup adalah apa yang saya mau. Benar bahwa itu memang demikian menyenangkan. Tapi, bukankah kebebasan tanpa keterbatasan akan menjadi tidak demikian berharga?




 Singkat cerita, dalam tahun-tahun terakhir ini saya mulai memasukkan "menikah" di dalam kamus pribadi saya. Pernah gagal, terjebak, dan menjebakkan diri dalam rasa dan persepsi yang berbelit-belit dan berwujud labirin tak terdefinisi. Kemudian belajar berdamai dengan diri sendiri dan lebih percaya pada niat baik dan kuasa Tuhan. 


Iya, hidup jelas saja tidak melulu soal menikah dan tidak menikah. Tidak menikah tidak membuat manusia mati kok, kalau tidak makan dan tidak minum, mungkin iya. Itu kalimat yang cukup sering terlontar dari saya ketika pertanyaan soal pernikahan mampir dalam hari-hari saya. Tapi sore ini, kepala saya memang sedang ramai dilintasi bahasan soal pernikahan. Jadi ya saya tulis. Maksudnya, saya curhatkan di blog tak terurus ini. Supaya lega, supaya kepala bisa diisi yang lain lagi.




Pernikahan, yang saya pahami di sore ini, bukanlah melulu soal rasa. Bukan cuma soal saya sayang dia dan dia sayang saya. Pernikahan, yang saya pahami dalam suara hujan sesorean ini adalah juga soal niat baik, komitmen, keinginan membangun sesuatu yang lebih baik, kompromi, ke-saling-an yang dinikmati, kepercayaan penuh, keberanian memutuskan, usaha, penerimaan, keseimbangan, soliditas tim, dan kegembiraan soal masa depan yang tidak bisa dipastikan itu. 


Pernikahan, dalam kepala saya sore ini adalah tentang pilihan dan keberanian mengambil keputusan, plus menanggung segala resiko dan atau konsekuensi dari keputusan itu sendiri. Pernikahan, adalah tentang fase hidup yang bukan lebih tinggi atau lebih rendah, tapi berada dalam jarak yang tidak sama. 


Pernikahan pun, bagi saya di sore ini, adalah tentang satu nama yang disandingkan dengan jajaran harapan dan mimpi yang tak perlu dijelaskan panjang lebar pada yang tidak berkepentingan.


Begitulah.


Dan mungkin, ini adalah alasan kenapa sesorean ini kepala saya penuh dengan cerita dan racauan soal pernikahan: saya sedang merencanakan pernikahan dalam waktu dekat.




Kalau ada yang baca tulisan ini, doakan saya ya, semoga hati saya dikuatkan dan dilembutkan, supaya niat baik yang sedang direncanakan ini bisa direalisasikan dengan baik dan membawa kebaikan untuk semua pihak, semoga apa yang diputuskan untuk dijalani menjadi sesuatu yang penuh manfaat, memberi rasa nyaman dan menyamankan, mengantarkan saya pada arti hidup yang lebih daripada apa yang bisa saya ekspektasikan selama ini. 

Doakan saya ya, semoga saya diizinkan mencintai dengan ketulusan yang bahkan saya tidak pernah tahu wujudnya seperti apa itu. 
Doakan saya supaya saya bisa mewujudkan bangunan-bangunan kokoh dalam kehidupan yang disediakan untuk saya jalani ini. Doakan saya :)


Terimakasih tertinggi untuk Tuhan yang sudah memberi hidup.


dan untuk semua orang yang hadir dalam cerita saya, yang membuat saya bisa menuliskan ini semua di sore ini.





di tengah-tengah meja, antara deras hujan dan rindu yang semena-mena, 14Desember2012


nb: saya suka cincin yang kamu pilihkan itu. serius. 



Friday, June 08, 2012

mendadak menuju Tangkuban Parahu [bagian 2]


lima bulan berlalu dan saya baru mau posting bagian dua-nya. telat mampus deh ini tulisan. maaf ya saya udah janji janji palsu mau nyambung tulisan bagian 1 itu secepatnya. kenapa bisa lama banget baru disambung? kalau saya jelasin alasannya, nanti jadinya bakal panjang lebar karena banyak ngarangnya, makin nggak selesai-selesai ini ceritanya. [oke, ini alasan bagus]


wis, dilanjut ah.
selesai hujan yang bukan gerimis itu, ada yang datang nyamperin saya di warung dan ngajak ngobrol, kalau saya nggak salah ingat, namanya Ari, orang asli sekitaran sana, umurnya sekitar 24 tahun. obrol punya obrol, ternyata dia kadang-kadang jadi guide di Tangkuban Parahu ini, dari buat pengunjung lokal sampai guide buat yang nggak lokal. setelah tau saya cuma jalan sendirian, akhirnya beliau menawarkan diri untuk nganterin saya sampai ke dalam kawasan wisata Tangkuban Parahu dengan motor karena jalan kaki dari gerbang bawah itu lumayan jauh. nah, supaya ceritanya singkat, pokoknya beliau akhirnya jadi guide nggak resmi saya deh selama jalan-jalan ke kawah ini.


setelah perjalanan beberapa menit dengan motor, akhirnya sampai juga di atas! mungkin karena masih pagi, udaranya beneran seger dan enak dinikmatin, terlepas dari bau khas kawah yang menyengat ya tentunya. pemandangan khas Kawah Ratu pun tersaji di depan mata saya. ini bukan pertama kalinya saya ke sini dan lihat pemandangan kawah ini, tapi rasa takjub nggak mau jauh-jauh tuh tiap saya main-main ke tempat ini.  


Kawah Ratu, yang sepertinya paling populer diantara yang lain, karena paling mudah dicapai dari tempat parkir. 


biasanya, kalau pergi dengan keluarga, saya nggak bakalan jalan jauh-jauh, cukup di sisi Kawah Ratu ini saja. soalnya biasanya saya ke sini bareng sama kakek-nenek yang emang udah bukan waktunya lagi diajakin jalan kaki nanjak-nanjak jauh-jauh. hehehe. 


Lika liku jalan di kawasan Tangkuban Parahu, lengkap dengan jajaran kios penjual makanan dan souvenir khas sana.


dari penjelasan Ari, ada 3 kawah yang menarik buat dikunjungi di Tangkuban Parahu, yang pertama itu Kawah Ratu, lalu ada Kawah Domas yang ada air panas buat masak telur rebusnya itu (serius, Ari bilangnya gitu), dan Kawah Upas yang dasarnya bisa bikin tulisan nama dengan cara nyusun batu. 


karena sudah pernah ke Kawah Domas waktu acara Jambore Fotografi di Bandung tahun kapan itu, jadinya saya memilih untuk ke Kawah Upas saja ditemani Ari. oia, di tengah perjalanan, ransel saya tiba-tiba pindah ke punggungnya beliau, kasian kali ya liat saya gendong ransel segede itu yang isinya juga entah apa :))
nuhun ya Ri..


Perjalanan menuju Kawah Upas, ada jembatan yang dibangun di atas bekas longsoran.

sepanjang jalan jadinya ngobrol ngalor ngidul, termasuk ditunjukin tanaman yang nantinya dikasih judul "Akar Kayu Naga" yang sialnya lupa saya foto, dan tanaman berdaun merah yang banyak tumbuh di kawasan ini, namanya Manarasa, katanya sih nggak bahaya, jadi saya coba makan itu daunnya, rasanya kayak jambu-jambu gimana gitu deh. eh apa kayak daun jambu ya? sekitaran itu lah rasanya.


Ini tanaman yang namanya Manarasa.

setelah perjalanan yang agak lumayan, akhirnya saya dan Ari tiba di sisi Kawah Ratu yang satu lagi. sempat agak bengong saya, kok bisa-bisanya saya baru mencapai tempat ini setelah lebih dari lima kali mengunjungi Tangkuban Parahu ya? pemandangannya cakep, dan karena baru pertama kali ke sini, saya jadi betah berlama-lama duduk sambil ngeliatin si kawah ini. 

Pemandangan Kawah Ratu dilihat dari sisi yang satunya (bukan dari yang dekat tempat parkir), cakep!

nengok ke kanan sedikit, pemandangannya pun berubah, ada jalan kecil menuju bukit (gunung kali ya?) yang sebetulnya menggoda buat ditapaki. kunjungan berikutnya saya udah niatin bakal jalan ke arah sana deh ini. pengennya sih saya guling-guling di lokasi yang difoto ini, cuma kasian sama Ari, bisa stress dia nanti kalau tiba-tiba teman jalannya berkelakuan agak nyusahin. 

Jalan (bukan) setapak yang katanya sering juga jadi jalur hiking-nya anak muda di area Tangkuban Parahu.


dan, akhirnya tibalah saya di tempat yang disebut-sebut sebagai "tempat nulis nama" sama Ari. sayangnya, kamera ponsel saya nggak sanggup nunjukkin karakteristik si kawah yang satu ini. jadi ya pemandangan sekilasnya saja lah ya. nggak bosen-bosen saya bilang cakep soal pemandangan yang saya liat kali ini. dan menurut saya sih memang nggak berlebihan, susah dapetin kata-kata yang tepat untuk bener-bener gambarin perasaan waktu ngeliatnya :)

Pemandangan sekilas Kawah Upas. 


dan akhirnya sudah waktunya pulang. 
demikian cerita nyasar saya yang tertunda. terimakasih banyak buat Ari yang udah nemenin jalan dan ngobrol ngalor ngidul, terimakasih juga buat seorang teman baik yang mengantar saya dengan sms berisi kata "jarambah" nya, dan untuk seseorang yang setelah dengar cerita ini jadi ngajakin saya piknik ke Tangkuban Parahu tapi belum jadi-jadi sampai sekarang.. hahaha..

ayo jalan-jalan lagi, masih belum puas ini saya.



selamat menikmati! cheers!




masih daerah sub urban di dalam hati, juni 2012

Monday, January 16, 2012

mendadak menuju Tangkuban Parahu [bagian 1]


saat mulai menulis ini, saya jadi teringat soal tulisan seorang teman soal "pursuit of happiness" dan tertawa, bahkan sebelum saya baca ulang tulisannya.

jadi, beginilah cerita saya..

pada suatu hari yang tidak perlu disebutkan kapan tepatnya, saya menjadwalkan diri untuk pergi ke suatu tempat yang bernama kampus (bukan nama sebenarnya). dalam proses menuju dan [sepertinya] sebelum, terjadi semacam disfungsi sementara pada beberapa komponen di otak yang menyebabkan saya akhirnya tidak berhenti di tempat yang seharusnya.

begitulah.

cerita dimulai dengan angkot Stasiun-Lembang yang dikemudikan dengan lancar menuju Lembang. Lembang ya, dan tempat tujuan yang awalnya dijadwalkan bukan bernama Lembang.

itu yang nongol di foto pojok kiri bawah adalah sopirnya yang nagihin ongkos sebelum tuker-shift sama sopir berikutnya


saya bahkan tidak tahu di mana sebenarnya perhentian terakhir angkot itu di daerah Lembang. akhirnya saya turun di Jl. Grand Hotel Lembang, karena sebetulnya itu sudah jalur angkot untuk kembali lagi ke arah stasiun. oke, saya memang biasa nyasar dan buta arah, jadi itu tidak apa-apa.

inilah jalur jalan kaki saya 

dan yah, dengan berjalan kaki sambil menikmati udara dingin Lembang dan langit pagi yang biru menyenangkan, saya akhirnya sampai di jalan raya di depan Grand Hotel Lembang untuk kemudian meneruskan perjalanan dengan angkot Stasiun-Lembang lain yang menuju Lembang, bukan stasiun.

sekali ini, saya duduk di sebelah sopir angkot, jadi bisa foto-fotoin jalan meskipun cuma jadi begini


perhentian berikutnya adalah Masjid Besar Lembang, niat awalnya sih ingin numpang ke toilet karena saya pikir pasti ada lah toilet umum situ. sesampainya di sana, ternyata mesjidnya dikunci sodara-sodara.

seandainya nggak dikunci, kayaknya enak buat ngademin otak, sama hati, kali :p

akhirnya saya cuma bisa foto si masjid ini dari luar saja, tentunya sambil berpikir di mana lagi bisa numpang ke toilet karena udara dingin di Lembang dan asupan secangkir kopi hitam membuat kebutuhan saya akan toilet jadi meningkat dan semakin urgen. jawabannya adalah: numpang di toiletnya SB Mart. makasih ya mbak udah boleh numpang :D

dan karena urusan per-toilet-an sudah selesai, saya kembali mampir ke sebuah warung kopi untuk menikmati kopi panas.

harusnya setelah ini saya turun lagi dari lembang untuk kembali ke yang namanya kampus. malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, saya tergoda dengan keberadaan angkot yang menuju Cikole. oke, saya tahu peribahasanya nggak nyambung, tapi biarinlah. singkatnya, saya pun naik angkot yang menuju cikole tanpa tahu nanti si angkot ini sampainya ke mana.


saya seangkot dengan serombongan ibu-ibu pengajian yang ternyata [nantinya] turun di Grafika, cikole. sayangnya nggak sempat juga foto-foto mereka atau foto-foto bareng mereka. nah, di angkot inilah saya bertelponan dengan seorang teman dan pembicaraannya [sepertinya] didengar oleh bapak sopir angkot yang langsung tanya: mau kemana gitu neng?
saya: mau jalan-jalan aja pak, ini angkotnya sampe mana ya?
bapak sopir angkot: ya cuma sampe sini neng, emang mau jalan-jalan kemana?
saya: nggak tau sih pak.. [oke, ini mulai kedengeran hopeless di telinga si bapak]
bapak sopir angkot: kalo mau main ke tangkuban, bapak anter deh neng, daripada bingung mau ke mana?
saya: wah bener pak? boleh deh pak..
deal! saya pun menyiapkan diri [baca: ongkos] yang mungkin diminta sampai ke sana.

dan akhirnya angkot ini menuju ke objek wisata Tangkuban Parahu..

bagaimana nasib saya berikutnya? sampai di gerbang depan bawah Tangkuban Parahu, hujan deras pun turun dengan manisnya. horeee! itu baru jam setengah delapan pagi dan saya sudah basah-basahan. setelah membayar ongkos angkot [sepuluhriburupiah] saya pun lari ke salah satu warung kecil di pinggir-pinggir gerbang masuk itu. tujuannya tentu saja neduh, makan indomie rebus, dan ngopi lagi.

selain menjual minuman dan makanan, warung ini juga menyediakan 'produk' khas Tangkuban Parahu: Bubuk Belerang dan Akar Kayu Naga yang sudah dikeringkan.




waduh. tulisan ini sudah panjang ya. sekian dulu reportase jalan-jalan santai yang tidak sengaja itu. nanti saya lanjutkan lagi bagian 2 nya, capek baca tulisan sendiri. 


selamat menikmati dan ayolah jalan-jalan!



daerah sub-urban di dalam hati, januari 2012

Sunday, January 01, 2012

cuma [perlu] sebagian saja.


kadang, yang sebagian itu lebih menarik.



 ___________


benar-benar cukup satu bagian dan tidak usahlah diberitahu soal bagian yang lain. entah ini berkaitan dengan sifat sebagian manusia yang berani berharap tapi tidak berani kecewa, atau memang sekedar lebih suka bermain dengan imajinasinya sendiri sehingga hanya butuh sebagian kecil saja supaya bisa berkembang seluas-luasnya.



___________


seperti cerita pacarannya anak sma. yang suka si anu karena dia begini dan begitu. kemudian setelah sekian pertemuan malah berbalik membenci karena ternyata si anu itu di sisi lainnya begitu dan begini.


___________


padahal ya, sisi yang manapun kan sama saja: semuanya itu merujuk pada dia, orang yang sama. lalu kenapa harus sebagian saja yang diterima?


___________


kalau saya pikir, atau kalau buat saya, alasannya sederhana. sesederhana saya makan tumis kangkung dengan menyisakan potongan bawang putih karena saya tidak suka. atau seperti tren abg jaman friendster yang selalu memotret diri sendiri dengan sudut 45 derajat karena percaya mereka paling bagus dilihat dari sana. cuma sebegitu saja.



___________


mengutip komentar Arza Nursatya soal ini: ‎"Aku bersyukur cuma tau engkau sepotongan ini. Tak perlulah kau tunjukkan sisi lainmu, hanya agar kita akrab. Karena dari yang sedikit tentangmu ini, aku kagum."



___________


meskipun pada kenyataannya, saya sangat suka untuk tahu lebih banyak dan lebih banyak dari yang sebagian itu. apalagi kalau dia membuat saya kagum, atau suka, atau semacamnya. tapi dalam beberapa kasus khusus, saya lebih suka tidak bertanya lebih jauh daripada yang dipaparkan.



___________


dan, cha, gambar yang dari sini saya minta izin pakai ya.. semoga boleh.





___________








-sudut kecil pikiran di awal 2012 yang kehilangan hasrat untuk merasakan kantuk.-

Saturday, December 17, 2011

[kembali] ke Jogja. atau Yogyakarta. dan Solo,



Ke Jogja. Trip? Kurang pas. Travelling? Belum sreg.
Journey. Rasanya seperti itu. Perjalanannya adalah perjalanan yang begitu. Yang tidak pernah selesai dan tidak perlu diselesaikan. Karena selesai artinya benar-benar selesai. Dan bukankah penyelesaian dari hidup adalah tidur panjang yang biasa disebut mati?




Seperti biasa, irama Jogja masih saja membuai saya dalam ketukan nada yang sangat personal dan memanjakan imajinasi sampai di tingkat tertinggi. Sesuatu yang sangat sulit saya dapatkan di kota yang saya tinggali sekarang ini. Di mana? Sebut saja namanya Kota B [bukan nama sebenarnya].




Entah dari mana asalnya, Jogja memberikan saya semacam rasa rindu yang aneh, yang begitu eksotis, yang menggoda saya untuk kembali dan kembali lagi ke sana, tidak peduli dengan siapa saya harus pergi. Tidak peduli dengan angkutan apa saya berangkat dan kembali. Tapi tetap saja, favorit saya adalah kereta api. Lebih spesifik: kereta api ekonomi malam yang tidak dalam kondisi penuh padat.




Jogja kan panas. Iya, Jogja panas. Anehnya, saya tetap betah jalan kaki di sepanjang jalanan Jogja. Alasan pertama adalah karena nggak ngerti jalur angkutan umum Jogja, dan alasan kedua [yang sebenarnya paling penting] adalah karena saya memang suka. Jalanan yang masih ramah, suasana yang memanjakan isi kepala saya, perkenalan-perkenalan kecil di sepanjang jalan, sisihan-sisihan waktu di warung kopi atau warung apapun yang dihampiri untuk berteduh atau melepas haus, dan lain-lain, dan lain-lain, adalah alasan-alasan tambahan yang tidak di-ada-ada-kan.




Angkringan, kopi, obrolan ngalor ngidul, dan waktu yang tidak pernah terasa lama. Ini yang membuat liburan ke Jogja tidak pernah terasa cukup. Ini juga yang membuat saya berkhayal alangkah menyenangkannya kalau bisa jadi bagian dari kota ini.




 . . .




Dan Jogja, membiarkan saya kembali jatuh cinta, pada apapun. Jatuh cinta yang tidak sakit, karena segera bisa mendarat dengan tepat dan terus berjalan. Seperti diberitahu bahwa jalan di depan memang satu arah, tapi tidak cuma ada satu jalan. Hidup berubah. Dan saya percaya itu artinya adalah menjadi lebih baik, selama manusia mau belajar, atau bisa belajar, atau bisa dan mau belajar.




_______________ begitulah _______________



Perjalanan berikutnya adalah Solo, atau Surakarta. Tapi nanti saja lagi, perjalanan saya di Solo masih terlalu singkat untuk bisa benar-benar memahami iramanya.





Pojok timur Bandung, ujung 2011 yang belum sampai.

Tuesday, August 30, 2011

soal sepi yang tidak ada

aku merindumu dalam tidak tahu,
saat angin enggan datang dan sepi mulai tersenyum manja.

aku memimpikanmu dalam tidak ada,
ketika kosong ternyata lebih berarti daripada terisi.

kemudian tidak ada kantuk ataupun kopi.

seperti berada pada malam yang bukan malam dan hampa yang isinya berantakan.
dan detik mengalir terlalu lambat untuk kuhitung,
sementara sadarku menguap ditelan pekat.

harmoni cemas dan gelisah rupanya tak sedemikian merdu untuk bisa mengantarku pada hening yang kutunggu tanpa pernah datang.
perlahan mengoyak peduliku pada dunia yang tidak bisa kupilih lagi.

aku membencimu dan mencintamu pada jalur yang sama.
yang tidak pernah berhenti bertabrakan dan menabrakkan diri ketika jemu datang tanpa permisi.

kemudian sepi menawariku untuk terbunuh dalam ramai.
sudah terlalu konyol untuk kuiyakan.


ah, waktu.
bahkan sepi pun enggak bermalam barang sejenak denganku.



sebelah kiri akuarium, 2011

Sunday, May 08, 2011

Tentang Lelaki [yang seperti] Tanah


Dia kembali bercerita tentang hentakan-hentakan kesepian dalam kepalanya padaku. Aku mendengarkannya dengan senang, dan seringkali tidak tenang. Kadang kalimatnya tersusun rapi. Terangkai baik dengan begitu indah hingga sayang rasanya kulewatkan walau hanya satu kata. Tapi lebih sering lagi ia bercerita dengan acak dan acak-acakan. Kata-katanya melompat cepat, menceritakan dunia dengan keras dan terburu-buru, kemudian setelah waktu yang tidak lama semuanya berakhir seperti tabrakan beruntun di tikungan sebelah jurang. Lalu dia diam. Lalu dia bicara kembali, mengganti topik semaunya dan kembali mengacak-acak konsentrasiku dengan cerita barunya yang lebih mirip igauan. Atau racauan. Ya, dia meracau dalam ceritanya tentang hari-hari yang tidak terpikir ada oleh orang udik sepertiku.

Dan hari ini dia datang dengan tenang, menyapaku sopan dan betah beramah-tamah sampai aku jengah sendiri. Ah, pasti ada cerita baru yang berbeda. Tak biasanya dia begini tenang dan cenderung dingin. Dan benar saja. Dia mulai bercerita tentang seorang lelaki yang disebutnya seperti tanah. Lelaki yang mengacaukannya dengan semua refleksi yang tepatnya keterlaluan. Lelaki yang sedang dikunjunginya ketika masih saja dia bermimpi tentang masa lalu.

Dia bilang, lelaki itu mengingatkannya pada tanah. Pada banyak jenis tanah. Pada tanah yang diinjaknya, tanah yang mengalasinya berguling dan tertidur di bawah taburan bintang, tanah yang dibentuknya menjadi patung-patung tanpa makna, tanah yang dilihatnya menyangga jajaran tanaman di tebing sana, tanah yang menutupi jasad-jasad saudaranya. Tanah yang sama, yang tidak benar-benar sama, tapi tetap saja tanah.

Lelaki dalam ceritanya itu sungguh digambarkannya seperti tanah: menyediakan dirinya sebagai pijakan agar banyak tanaman dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik. Dia membiarkan dirinya diusik dengan senang oleh hewan-hewan kecil agar mereka bisa hidup nyaman di dalamnya. Lelaki itu benar-benar seperti tanah, membiarkan nutrisinya diserap, sebanyak-banyaknya, oleh siapapun atau apapun yang membutuhkan, cuma supaya mereka tetap hidup, tumbuh, dan berkembang. Dan cukuplah ia percaya bahwa semua yang diberikannya akan terganti berkali-kali lipat nanti. Nanti yang pada waktunya. Nanti yang entah kapan. Tapi lelaki tanah itu percaya. Dan lelaki itu tenang karenanya.

Dia menghela nafas panjang sambil menyeruput wedang jahe yang baru saja kuhidangkan.

Kami diam dan sama-sama kembali menghela nafas panjang. Dan kami terus saja diam sambil membiarkan bayangan lelaki tanah itu hilir mudik di kepala kami.

Wedang jahe mulai dingin dan dia kembali bercerita tentang lelaki tanah itu. Dan aku masih saja mendengarkan dengan senang.



kamar sebelah, saat diburu waktu pergi, 080511

Saturday, March 26, 2011

saya sudah memilih.


Saya mungkin mudah terpengaruh. Mungkin juga mudah memengaruhi. Dan mungkin juga tidak. Karena apapun mungkin, jadi sama sajalah. Sama-sama mungkin yang bisa menjadi tidak mungkin karena ya itu tadi: apapun mungkin.

Sepertinya sudah waktunya saya mengaku: saya lelah dengan bahasan-bahasan dan persepsi orang-orang soal cinta. Segala definisi yang ditulis di sana sini membuat saya muak dan semakin tidak mendapat apa-apa. Tentu saja, karena itu adalah cinta mereka, bukan cinta saya, kalau itu ada.

Tapi ada kok, pasti ada yang namanya cinta saya, kalau memang cinta itu benar-benar ada dan bukan tokoh fiktif favorit manusia. Isi kepala saya menggerenyam tidak menentu setiap kali saya memikirkan soal beginian. Mungkin dia kesal karena saya memasukkan terlalu banyak kemungkinan yang mungkin seringkali tidak ada gunanya atau mungkin terlalu berguna. Ah ya, saya harus berhenti berpikir di sini. Kelanjutannya akan membawa saya terlalu jauh dan lupa jalan pulang sehingga bisa saja tidak kembali dalam waktu yang lama atau seterusnya. Atau bisa jadi kembali karena tidak jadi pergi. Jadi saya cukupkan soal si cinta karena bukan itu yang mau saya tulis tadinya.

Saya baru saja memilih. Atau memutuskan pilihan. Dan menurut saya itu benar, tentu saja benar karena ini menurut saya dan berhubungan dengan saya dan hidup saya kalau Tuhan masih mau memberi saya hidup. Egois. Tentu saja egois karena saya manusia dan saya hidup dengan memikirkan kepentingan saya seperti manusia-manusia lain juga hidup dengan memikirkan kepentingan mereka meskipun seringkali mereka bilang itu adalah demi orang lain. Padahal minimalnya itu adalah supaya mereka tidak tersakiti karena membiarkan orang lain tidak bahagia. Mungkin begitu. Mungkin juga tidak, tapi biar sajalah.

Saya memilih karena saya percaya. Dan saya tahu sebagian orang akan mencemooh saya karena alasan saya memilih. Saya tahu akan ada orang-orang yang menyebut saya emosional dan terburu-buru karena saya memilih ini. Tapi, seberapa jauh mereka mengenal saya dan dunia saya? Seberapa jauh mereka memahami saya dan kebutuhan saya? Kebutuhan saya, secara spesifik. Bukan kebutuhan seorang perempuan berusia dua puluh empat tahun. Karena saya bukan hanya seorang perempuan berusia dua puluh empat tahun, seperti orang lain juga bukan hanya itu. Ah. Emosi saya menanjak lagi. Saya harus tarik nafas sejenak sebelum meledak.

Ada satu momen pada hidup saya ketika saya benar-benar hancur. Hancur karena kehilangan lebih dari separuh diri saya. Hilang karena dia yang saya titipi diri saya itu pergi tanpa sempat berpamitan karena dipanggil oleh pemiliknya yang sebenarnya. Satu-satunya orang yang saya percaya seperti saya percaya pada diri saya sendiri. Satu-satunya orang yang sangat tahu tentang cerita saya yang orang lain tidak tahu dan tidak perlu tahu. Satu-satunya yang kemudian menjadi tidak ada lagi karena sudah beristirahat dengan tenang di sisi-Nya. Lalu diri saya yang tinggal separuh itu berusaha membuat dirinya utuh kembali. Yang terjadi kemudian adalah satu demi satu bagiannya merapuh dan hancur. Sedikit demi sedikit. Dan tidak ada lagi yang dipedulikannya benar-benar. Hidup cuma permainan dan mimpi adalah kebohongan untuk anak kecil. Hidup seaadanya dan bersenang-senang sekedarnya adalah pilihan yang bagus. Dan begitulah.

Waktu berjalan dan isi kepala ini tidak pernah berhenti berteriak. Malam-malam tanpa tidur dan hari-hari tanpa rasa nyaman. Tertawa yang tertawa dan menangis yang menangis. Kosong itu tidak pernah terisi.

Sampai pada saatnya saya memilih untuk kembali percaya. Dan merasa kembali utuh. Dan waktu kembali berjalan. Sampai pilihan itu ditolak dan dihujamkan ke dasar tanah terbawah dan terendah yang bisa dicapai. Kemudian saya muak pada hidup meskipun hidup tidak punya salah apa-apa pada saya. Saya berteriak dan tidak ada gunanya.

Tuhan, kali ini saya tidak mau mengalah. Mereka tidak pernah tahu ketika saya terjatuh dan berdarah. Mereka mengukur pilihan saya dari ini dan itu yang mereka pahami dan saya tahu itu tidak salah. Tapi bagaimana dengan saya? Seberapa paham mereka tentang saya dan bagian diri saya yang tidak pernah bisa saya ceritakan dengan kata-kata? Mereka tidak pernah mau tahu dengan keberisikan di dalam kepala dan kepanikan di hati saya. Buat mereka, saya adalah sama saja dan biasa saja. Karenanya harus hidup dengan cara biasa dan biasa-biasa yang lainnya seperti apa kata buku panduan anu dan itu atau kata pakar anu dan itu. Mungkin begitu. Atau mungkin cuma karena saya tidak pernah bisa membiarkan mereka mengerti saya karena saya tidak percaya. Karena saya dengan jahatnya tidak mau memercayai siapa-siapa.

Tuhan, saya sombong sekali di sini. Bicara seolah-olah saya yang benar dan mereka yang salah. Padahal tidak. Saya sudah menyakiti banyak sekali. Melukai banyak sekali. Tapi Tuhan pasti tahu alasan saya memilih. Dan Tuhan pasti tahu kalau saya tidak melulu bicara cinta dan mengatasnamakan cinta ketika saya memilih kali ini. Tuhan, saya benar-benar tidak mau mengalah. Bukankah saya sudah bilang, konsekuensi ditanggung sendiri?


ujung hati sebelah kiri yang tidak ada, 260311

Monday, December 13, 2010

isi kepala dan isi lainnya yang tidak ada isinya

mungkin cuma semacam PMS yang biasa. sindrom standar yang bikin perempuan jadi sensitif tidak jelas dan lebih sering menyebalkan. dan semoga saja cuma karena itu, tidak lebih buruk.

rasa kesal yang bergumul dan cuma bisa menggumpal tanpa terurai.

muak atas satu dan lain hal tapi sudah kehilangan tenaga untuk berteriak.

cemas akan justifikasi tidak penting yang diberikan oleh orang penting sehingga secara keseluruhan menjadi penting dan mengunci jalur pikiran sebelah sana.

bertanya kembali tentang kebebasan yang katanya ada tapi tiba-tiba kelihatannya itu bohong tapi tidak tahu juga apakah yang kelihatan itu memang benar begitu atau juga bohong.

menyimpan mimpi yang itu dengan hati-hati supaya tidak terkena imbas dari ketidakjelasan yang berkutat pada kejenuhan dan rasa jengah yang muncul seperti ada dan tidak.

mengingat kembali niat baik yang mungkin sudah tidak sesempurna di awal karena dimakan waktu dan kesadaran dan atau ketidaksabaran.


kemudian menyingkir dan memilih masuk kembali ke dunia yang terbangun tanpa interaksi berarti. atau menutup pintu. atau tidak menutup apa-apa karena memang tidak pernah ada apa-apa di sana.



diri sendiri, desember10

Thursday, August 19, 2010

soal hak bahagia yang masih ada.

saya sudah bilang supaya jangan terlalu banyak membaca dan kamu membantahnya!
kamu menolaknya dalam diam dan terus membaca. satu demi satu. kemudian dua, tiga, dan lalu kamu terbenam di sana. berkutat dengan rasa sakit karena tercabik berkali-kali di tempat yang sama.
lalu tangismu pecah dalam diammu. tetap dalam diammu.

saya sudah bilang supaya kamu menutup buku itu dan memilih buku lain yang lebih membuatmu hidup ketimbang sekarat, dan tanganmu masih saja erat menggenggam buku lamamu.
meskipun kamu tahu membacanya tidak memperbaiki ketakutanmu. meskipun kamu sangat-sangat tahu bahwa tanganmu sudah terluka terlalu banyak untuk terus menggenggamnya seperti itu.

ayolah, hidup harus terus kamu lanjutkan dengan menjadi manusia, bukan mayat hidup yang tertawa dan bilang baik-baik saja padahal sudah mati rasa. sudah tidak bisa lagi mengenali siapa apa dan bagaimana yang sesungguhnya.

sudah waktunya kamu
berhenti membacanya. simpan baik-baik buku itu di rak bukumu, dan percayalah pada saatnya nanti buku itu akan ada di tangan yang lebih berhak. yang lebih bisa mengurusnya dengan baik dan bahagia.

sekarang waktumu untuk membuka buku baru yang sudah menunggu untuk kamu coret-coret dengan lebih menyenangkan, kamu baca dengan lebih bijak, dan kamu pahami dengan lebih baik.

lalu, seperti yang pernah kita bicarakan, jalanan di depan sana cuma satu arah, dan kamu tahulah artinya apa.


saya tidak akan bilang hidupmu akan selalu baik-baik saja, karena memang tidak ada hidup yang selamanya baik-baik saja.
tapi jadilah kuat, jadilah lembut dengan tepat.

hiduplah dengan bebas. dan berjalanlah terus walau tertatih.
sesungguhnya hak bahagiamu tidak pernah dicabut.



sudut kecil ruang kerja, agustus2010. merdeka!

Monday, July 26, 2010

tidak boleh, tidak mau, dan tidak peduli.


kopi panas tanpa gula dan pikiran-pikiran tentang kamu menemani saya menghabiskan dini hari.
dan rasanya sama: pahit dan getir yang dinikmati sebagai adanya.
satu album lagu Teitur mengetuk-ngetuk kepala saya dengan nada dan beberapa baris lirik yang tertangkap, menyentak, dan membuat ruang suram itu semakin mengesalkan.
saya menginginkan yang tidak mungkin. dan tidak boleh.

kemudian saya tidak peduli. tentang boleh dan tidak yang tidak tahu dari mana asalnya itu. tentang benar dan salah yang kadang-kadang sekedar urusan selera. saya sedang malas mengurusi dan diurusi orang lain. sedang enggan jadi teman yang baik. dan sedikit ingin berteriak pada satu sisi: saya bukan temanmu hei! atau lebih jujurnya: saya tidak mau kamu anggap teman!

lalu seperti biasa, saya tidak berminat jujur. jadi ya biarkan saja begini. nanti juga hilang sendiri. seperti biasa.

sudah saya bilang, teman setia saya masih akan selalu sama. dia, dia, dan dia yang tidak perlu saya pikirkan soal hidupnya. sepi tidak akan lagi membunuh saya pelan-pelan. saya tahu ke mana harus pergi ketika dia menyeringai dengan tidak bersahabat di sisi sebelah sana. saya tahu, sendirian menyelamatkan saya dengan lebih baik dalam waktu-waktu itu.

harapan sedang menjadi semacam lelucon untuk dipahami dan ditertawakan dengan lebih manusiawi. saya pikir tempatnya memang di situ, jadi saya belum akan memindahkannya ke mana-mana, saya hanya akan menertawakannya dengan lebih tega. sampai ia diam dan tak bisa lagi banyak bicara.


dan jatuh cinta? kata itu sedang dihapus sementara.
saya mau bilang terimakasih untuk kesempatan hidup yang masih ada.



ruang mimpi yang sedang disekat, 250710